Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.(Matius 11:28)

26 Agt 2011

KAYU COMPOSIT

Posted by Yonas Wisanto on 20:18 with No comments
Sebagian materialnya berasal dari sisa kayu ditambah plastik.
Sampai kapan pun kayu tetap menjadi idola material bangunan dan furniture rumah. Urat, tekstur dan warnanya yang natural menjadi daya tarik utama kayu. Setelah diolah menjadi ragam aplikasi keberadaannya mempercantik tampilan rumah. Namun, seiring makin langkanya bahan baku kayu di pasaran kini hadir berbagai jenis material substitusi. Salah satunya kayu komposit dengan tampilan menyerupai kayu asli.
Di Indonesia kehadiran kayu komposit atau WCP (wood composite panel) terbilang baru. Tapi, di luar negeri teknologi WCP sudah dikenal sejak 20 tahun terakhir. WCP adalah campuran serat plastik dengan kayu ditambah bahan pendukung lain, kemudian diolah menjadi rangkaian panel untuk aplikasi lantai, dinding, plafon dan lain-lain. Karena masih baru pelaku bisnis kayu komposit di tanah air juga masih sedikit. Yang sedikit itu pun umumnya mendatangkan produknya dari luar negeri. Satu dua mencoba memproduksi sendiri. Satu di antaranya adalah PT Green Resources Material (GRM). WCP GRM diproduksi di pabriknya di Batam, Kepulauan Riau, dengan bahan baku masih diimpor. Bahan bakunya campuran pellets: plastik, serbuk kayu dan bambu daur ulang, PVC (polyvinyl chloride), ditambah bahan organik lain sebagai pengikat.
Ragam aplikasi
“Kayu komposit adalah produk panel unik. Meski terbuat dari plastik penampilannya sama seperti kayu dengan urat dan serat menonjol. Dan, yang terpenting dengan memproduksi kayu komposit kita ikut memelihara lingkungan karena mengurangi penebangan pohon,” kata PN Teo, Managing Director PT Green Resources Material, kepada sejumlah jurnalis Jakarta termasuk Housing Estate yang diajak mengunjungi pabriknya awal Agustus 2010. Ia menyebutkan, penggunaan 3.000 ton WCP setara dengan mengurangi penebasan 100 ha hutan. Sekitar 60 persen bahan baku kayu komposit GRM berasal dari material bukan kayu. Jenis sisa atau serbuk kayu yang dipakai antara lain angsana, pinus dari Jerman dan bamboo dari Cina yang umurnya tidak lebih dari 7 tahun guna menjamin kualitas produk. PT GRM mengklaim produksinya aman bagi lingkungan, tidak menggunakan bahan racun (green toxic) sesuai dengan ketentuan internasional. Panel WCP GRM sudah mendapat 11 sertifikat dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Cina, Australia dan Jepang. Panel dapat dipakai untuk aplikasi dinding partisi dan pelapis, lantai dan plafon, sebagai kisi-kisi jendela (window blinds) dan ragam aplikasi kreatif lainnya. Dengan ukuran yang berbeda panel dapat digunakan untuk ruang luar dan dalam. “Dengan mengadopsi teknologi dari Jerman, kayu komposit GRM tahan segala cuaca, api dan air. Ketahanannya terbukti hingga 60 tahun pemakaian,” ujar Teo.
Tampilan panel natural seperti kayu dan tersedia dalam 70 bentuk profil panel. Setiap panel memiliki panjang dan ketebalan berbeda. Panel dinding tebal 3 – 28 mm dan panjang 50 – 340 mm, lantai 12 mm dan 113 – 200 mm, plafon 8 – 45 mm dan 65 – 270 mm. Harganya Rp400 ribu – 1 juta/m2 dengan garansi produk hingga 10 tahun. Produk juga diekspor ke Australia, Inggris, Amerika, Singapura, Jepang dan Eropa. Sumber: housing-estate.com

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan Anda berkomentar dengan sopan