Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.(Matius 11:28)

29 Jun 2014

Berapa Tinggi Ideal Pagar Rumah?

Posted by Yonas Wisanto on 19:28 with No comments




Tak ada aturan resmi yang mengatur tinggi pagar rumah sehingga banyak orang bingung menentukan tinggi pagar rumah ideal. Namun, sebetulnya ada beberapa faktor yang ikut berpengaruh dalam menentukan tinggi pagar rumah ideal.


Sebelum membangun pagar rumah, ada baiknya Anda mencari tahu terlebih dahulu regulasi yang dibuat pemerintah atau pengembang mengenai pagar rumah yang diizinkan. Adakah aturan jelas yang mengatur tinggi pagar rumah ideal.


Misalnya, ketika Anda tinggal di perumahan dengan konsep town house. Di perumahan semacam ini, penggunaan pagar tinggi akan bertentangan dengan konsep keramahan yang ditawarkan oleh perumahan tersebut.


Tinggi pagar rumah ideal juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Bagi Anda yang membangun pagar dengan tujuan melindungi area private di rumah, ketinggian ideal pagar adalah lebih tinggi dari rata-rata tinggi orang dewasa, yaitu sekitar 1,8 meter.


Untuk Anda yang ingin mencegah penyusup masuk ke dalam rumah, tinggi pagar rumah ideal berkisar 1,8 – 2,5 meter. Agar lebih aman, banyak orang menambahkan material tajam, antara lain pecahan beling, paku, dan sebagainya pada bagian kepala pagar.


Sementara itu, untuk meminimalisasi kebisingan suara di area depan rumah, bukan hanya tinggi pagar rumah ideal yang perlu diperhatikan. Faktor ketebalan pagar juga ikut berpengaruh. Untuk meminimalisasi suara, sebaiknya pagar rumah dibuat dengan ketebalan minimal 10 cm dan ketinggian berkisar 1,8 – 2 meter.


Sebagai saran, untuk Anda yang tinggal di lingkungan klaster, Anda bisa menggunakan pagar dengan ketinggian 0,9 – 1,2 meter atau hanya setinggi pinggang orang dewasa. Andi Wahyudi, arsitek dari ArchDESIGN, mempunyai ukuran yang jelas mengenai tinggi pagar rumah ideal.


"Tinggi pagar sebaiknya tidak lebih dari 1,5 m. Paling ideal 1,2 m," ujarnya.


Jika lebar rumah kurang dari 8 m, sebaiknya tinggi pagar 1,2 m. Sementara jika lebar rumah di atas 8 m, bisa menggunakan pagar berketinggian 1,5 m. Menurut Andi, ukuran pagar itu sudah cukup untuk memberi keamanan pada rumah dan memberi kenyamanan visual sehingga wajah rumah masih dapat dinikmati.


sumber:kompas.com

1 Jun 2014




Plafon memegang peran besar pada konstruksi sebuah bangunan. Plafon turut menentukan ketahanan struktur suatu bangunan atau rumah. Hal ini berlaku terutama pada rumah atau bangunan bertingkat, seperti apartemen, gedung perkantoran, hotel, kawasan bisnis, dan gedung – gedung lain yang memiliki jumlah lantai yang cukup banyak. Untuk itu, pada bangunan – bangunan tersebut, plafon dari beton lebih kerap digunakan. Sebab, plafon dari beton memiliki ketahanan yang lebih sehingga dapat menyangga struktur bangunan lebih kuat.


Sementara bagi Anda yang menginginkan sentuhan yang lebih estetis, plafon berbahan kaca bisa Anda pilih. Plafon ini cocok diterapkan pada bangunan dengan 1 atau 2 lantai. Meski terlihat elegan dan estetis, plafon kaca cenderung lebih rapuh dibandingkan dengan plafon dari beton. Untuk itu, mustahil menerapkan plafon kaca pada bangunan yang memiliki kamar bersusun secara vertikal dan jumlah lantai yang banyak.


Di samping perihal ketahanan, masih ada beberapa aspek lain yang membedakan plafon beton dengan plafon kaca. Aspek – aspek tersebut misalnya biaya, tingkat ketahanan, support, kemungkinan kerusakan, hingga masalah perbaikan dan perawatan.


1. Perbedaan plafon beton dan kaca dari segi biaya


Meskipun dalam hal ketahanan plafon beton jauh lebih kuat ketimbang plafon kaca, namun biaya yang perlu Anda keluarkan untuk plafon beton lebih murah dibandingkan untuk plafon kaca. Sebab, plafon beton merupakan campuran dari material – material seperti semen, abu, hingga sedikit campuran ampas atau terak. Sementara plafon kaca tersusun atas panel – panel kaca. Panel – panel ini terbuat dari mineral dan bahan kimia.


Material – material tersebut kemudian mengalami berbagai proses untuk membuat kaca, seperti dipanaskan dengan suhu tinggi lalu didinginkan. Setelah itu, kaca perlu dihaluskan dan dipotong secara presisi sebelum dijual ke pasaran dalam bentuk panel – panel kaca. Karena berbagai proses panjang yang dilalui untuk pembuatan satu panel kaca, tak heran jika biaya plafon kaca jauh lebih mahal.


Desain Interior Dapur dengan Plafond dari Beton

2. Tingkat ketahanan plafon beton vs plafon kaca


Untuk mengukur tingkat ketahanan, digunakan satuan psi. Plafon beton yang biasa digunakan pada bangunan bertingkat, seperti hotel dan apartemen, memiliki tingkat ketahanan mulai dari 6000 – 12.000 psi. Sementara plafon kaca, terutama dari tempered glass (salah satu jenis kaca yang kuat), tingkat ketahanannya dalam menyokong beban hanya sebesar 4000 psi, masih jauh dengan ketahanan yang dimiliki beton. Ada kemungkinan tingkat ketahanan kaca akan tidak sama di tiap sudutnya, yang mengakibatkan plafon kaca lebih mudah retak atau rusak.


Selain itu, kaca juga relatif mudah memuai, terutama dengan kondisi suhu udara tinggi seperti di Indonesia. Saat memuai, hal ini akan membuat panel – panel kaca meregang dan ukurannya menjadi lebih besar. Jika tidak diberi space untuk pemuaian, otomatis kaca akan tertahan hingga akhirnya pecah.


3. Dukungan pada plafon beton vs plafon kaca


Meskipun terbuat dari bahan yang paling kuat (tempered glass), plafon kaca masih membutuhkan support system atau dukungan. Support system ini menahan panel – panel kaca supaya dapat menopang struktur bangunan serta untuk menahan tekanan dari tiap – tiap dinding bangunan. Support system ini biasa dibuat dari kerangka logam, entah dari besi, baja, atau alumunium. Dukungan inilah yang sebenarnya menyangga dan menahan beban pada struktur bangunan, sehingga beban pada panel – panel kaca akan sedikit berkurang.


Sementara pada plafon beton, biasanya digunakan internal support dalam bentuk rebar. Material ini biasanya menopang struktur bangunan saat beton selesai dibuat dan materialnya belum benar – benar kering dan melekat sempurna. Saat beton sudah mengering, dukungan tidak lagi bergantung pada internal support, melainkan dari material beton itu sendiri.


Desain Interior Kamar Mandi dengan Plafond Kaca

4. Dalam hal jenis kerusakan dan cara memperbaikinya, mana yang lebih baik?


Dari segi jenis kerusakan pada plafon beton vs plafon kaca, tentu keduanya berbeda karena masing – masing terbuat dari material yang berbeda. Meskipun kedua material ini sama – sama berpotensi mengalami kerusakan dan keretakan, namun kerusakan atau keretakannya memiliki tingkatan yang berbeda. Keretakan pada plafon kaca bisa merupakan pertanda adanya kerusakan pada kerangka plafon. Dan bila panel kaca yang retak tidak segera diperbaiki atau diganti, panel tersebut bisa dengan mudah patah kapanpun, dan memicu panel – panel lainnya untuk retak dan patah juga.


Sementara pada plafon beton, adanya keretakan mengindikasikan adanya kerusakan pada struktur atau masalah lain yang skalanya lebih besar. Keretakan pada plafon beton juga relatif lebih bisa dan lebih mudah dikontrol dengan cara ditambal, tanpa harus mengganti atau mengubah strukturnya. Selain itu, jarak antara keretakan hingga kerusakan parah cukup lama. Dengan kata lain, keretakan pada plafon beton tidak harus buru – buru ditangani seperti halnya keretakan pada plafon kaca.


sumber:architectaria.com

TANGGA SPIRAL BAKAL JADI TREN 2014

Posted by Yonas Wisanto on 13:49 with No comments



Selain menghemat ruangan, tangga spiral juga bisa membuat rumah Anda tampil artistik, modern, dan unik. Tidak hanya itu, tangga spiral juga diprediksi akan jadi tren di 2014.


Umumnya, kita menggunakan tangga spiral hanya sebagai akses menuju balkon tempat jemuran. Namun, sebenarnya tangga spiral bisa digunakan di bagian dalam rumah. Menghubungkan lantai satu dan lantai dua rumah Anda.


Tidak hanya itu, tangga spiral juga diprediksi bakal menjadi salah satu tren di tahun 2014. Ayi Asmoro, salah satu arsitek dalam negeri mengungkapkan bahwa tangga spiral merupakan salah satu solusi yang bisa digunakan dalam menangani rumah sempit.


Space yang digunakan dalam memasang tangga spiral , jauh lebih sedikit daripada menggunakan tangga regular. Space berlebih inilah yang dapat kita manfaatkan untuk kebutuhan yang lain.


Selain menghemat pemakaian lahan, penggunaan tangga spiral juga memberikan kesan rumah yang lebih artistik, modern, dan unik. Selain itu, tangga putar dengan desain -desain tertentu juga bisa menampilkan kesan elegan dalam penggunaannya.


Tangga spiral dengan material kayu, tentu jauh lebih murah jika dibandingkan dengan tangga spiral dengan material metal. Penggunaan tangga spiral material kayu sangat sesuai jika ditempatkan di dalam ruangan.


Anda bisa menggunakan berbagai pilihan jenis kayu mulai dari: kayu cherry, oak, kenari, mahoni dan kayu-kayu lainnya. Sayangnya untuk penggunaan di luar ruangan, material kayu cenderung lebih mudah rusak, apalagi saat cuaca mulai tak bersahabat. Sementara itu, jika Anda ingin tampilan tangga yang lebih elegan, maka kayu bisa jadi material pilihan.


Untuk penggunaan tangga spiral di luar ruangan, sebaiknya menggunakan tangga spiral dengan material metal. Walaupun harganya jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan material kayu, tetapi penggunaan material metal akan membuat tangga spiral Anda lebih tahan lama. Jadi, mana tangga spiral yang Anda pilih?


sumber:ideaonline.co.id