Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.(Matius 11:28)
Tampilkan postingan dengan label KESAKSIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESAKSIAN. Tampilkan semua postingan

1 Nov 2013

Mujizat masih ada

Posted by Unknown on 19:55 with No comments
Puji syukur kepada Tuhan Yesus atas kasih karunia, mujizat besar, dan rencana indah-Nya dalam hidup saya.
Nama saya Dody, umur 33 tahun, tinggal di Bandung, inilah pengalaman hidup yang tidak akan pernah saya lupakan. Awal tahun 2010 saya mengidap EWING SARCOMA (tumor ganas), harus kemoterapi dengan asumsi tumor akan mengecil kemudian dioperasi. Ternyata setelah kemoterapi tumor tidak mengecil dan harus dioperasi dengan resiko amputasi kaki kiri karena tumor sudah membungkus pembuluh darah utama yang mengalirkan darah ke kaki. Saya mulai depresi dan hanya bisa berdoa minta kesembuhan dari Tuhan dengan jalan yang dikehendaki-Nya.
Puji Tuhan, Tuhan Yesus sungguh baik, Dia memberi jawaban untuk mengobati penyakit saya lewat informasi mengenai terapi untuk penyakit saya lewat hamba Tuhan yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya.
Saya menjalani terapi TACI (Trans Arterial Chemo Infusion) dan CRYOSUGERY THERAPY di Jakarta, berjuang melawan rasa sakit dan bolak-balik opname di rumah sakit, Desember 2011 saya menjalani operasi.
Mujizat Tuhan sungguh luar biasa, tumor besar kira-kira 28 cm berhasil diangkat dan Puji Tuhan kaki kiri saya masih utuh. Saya diijinkan pulang 25 Desember 2011, hari itu saya mendapatkan kado Natal terindah dalam hidup, tumor besar sudah hilang dan bisa pulang ke rumah. Puji Tuhan, sekarang saya sudah mulai bisa berjalan dan beraktivitas dengan baik.
Buat saya sekarang tidak ada yang tak mungkin dalam nama-Nya, saya percaya dalam nama Tuhan Yesus saya telah disembuhkan. Haleluya. Amin.
sumber:kisahnyatakristen.com

20 Okt 2013

Pasang surut kehidupan (kesaksian)

Posted by Unknown on 14:55 with No comments
Ditulis oleh Liu Wei Lin pada Kam, 11 Okt 2012
Sampai saat ini sudah lima tahun Ibu Hui Li dan suaminya mengurus sebuah salon di Batam, tapi dia memberitahu saya bahwa sesungguhnya baik suaminya maupun dia sendiri tidak mengerti tentang potong rambut. Saya sangat penasaran, jadi bertanya padanya bagaimana mereka bisa memasuki bisnis ini. Ia pun menceritakan pasang surut kehidupannya.
Ibu Hui Li berasal dari Jakarta, dan ia adalah seorang Kristen yang sungguh dan aktif dalam pelayanan Komisi Wanita di sebuah gereja. Waktu itu suaminya menjalankan sebuah bisnis sehingga keadaan ekonomi rumahtangga mereka cukup baik. Kedua anak mereka juga anak-anak yang lincah dan penurut. Satu-satunya hal yang dirasa kurang adalah, karena kesibukan dalam bisnis, sang suami sering harus pergi keluar kota, dan ketika anak-anak sudah kuliah di Perguruan Tinggi, mereka tinggal dekat kampus dan jarang pulang ke rumah. Dengan demikian Ibu Hui Li seringkali harus sendirian di rumah mereka yang besar, sehingga seringkali merasa kesepian. Untuk menghabiskan waktu, ia seringkali jalan-jalan ke Mall, dan pada suatu kesempatan bertemu dengan sekelompok wanita yang senasib. Kalau ada waktu, mereka bersama-sama shopping, minum kopi, makan makanan enak. Tak terasa waktu terus bergulir. Ia semakin terhanyut dalam gaya hidup seperti ini, dan perlahan-lahan mulai meninggalkan gereja.
Tanpa diduga, datanglah badai dalam kehidupan mereka. Karena terkena dampak krisis ekonomi, bisnis suami Ibu Hui Li menurun drastis. Bahkan dalam satu dua tahun kemudian mereka terjerat banyak sekali hutang. Seperti pepatah mengatakan, “Sudah jatuh tertimpa tangga”, karena tekanan ekonomi, Ibu Hui Li dan suami menjadi sering bertengkar. Suami menuding Ibu Hui Li sering menghamburkan uang, dan Ibu Hui Li balik menuding sang suami tidak becus menafkahi istri dan anak. Mereka berdua terus saling menuding, tidak mau saling mengalah. Keluarga yang semula harmonis tersebut menjadi hancur berantakan. Karena marah, Ibu Hui Li memutuskan untuk berangkat sendirian ke Batam, seorang diri memulai bisnis, dan menyerahkan urusan kedua anaknya kepada sang suami.
Begitu tiba di Batam, sendirian tanpa satupun kenalan, Ibu Hui Li tidak tahu ke mana harus berteduh. Setelah beberapa hari tinggal di hotel murah, ia dapati uang yang tersisa sudah tidak banyak, sedangkan belum ada pemikiran pekerjaan apa yang harus ia lakukan. Saat itulah ia mulai merasa menyesal telah mengambil keputusan yang terburu-buru. Tapi ia takut ditertawakan dan ditolak sang suami kalau pulang. Saat itulah ia terkenang akan masa-masa ketika masih rajin ke gereja. Di sana saudara-saudari seiman saling memperhatikan, dan ia memiliki kehidupan yang indah dan penuh sukacita. Ia pun mulai menyalahkan diri yang sudah mencintai keduniawian yang sia-sia, sehingga sampai pada keadaan yang seperti ini. Dirinya diliputi kesedihan dan penyesalan, merasa telah melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya ia lakukan, baik kepada Allah maupun kepada keluarga. Dalam keputusasaan, Ibu Hui Li menghadap Allah yang sudah lama ia tinggalkan. Seperti seorang kanak-kanak yang tak berdaya, dengan bercucuran air mata ia berdoa: “Bapa yang penuh belas kasihan, kiranya Engkau mengampuni putrimu yang pemberontak ini. Aku menyadari telah bersalah. Sekarang aku sebatang kara dan tidak memiliki apa-apa. Kiranya Bapa menunjukkan jalan keluar. Kalau Engkau pun tidak sudi membantuku, aku tidak lagi memiliki harapan untuk hidup. Bapa Sorgawi, kasihanilah anak-Mu ini!” Selesai berdoa, tiba-tiba ia merasakan kedamaian yang pernah begitu akrab dikenalnya memenuhi dirinya. Pikirannya kembali jernih, dan tiba-tiba ia teringat ada salah seorang saudari di gereja Jakarta di mana ia dulu aktif melayani, pernah memberitahu bahwa adik perempuannya membuka usaha di Batam. Mungkin saudari tersebut bisa membantunya! Ia pun segera menelpon saudari di Jakarta tersebut, dan ternyata ia masih mengingat Ibu Hui Li! Mendengar kesulitan yang sedang dihadapi Ibu Hui Li, ia segera memberitahu Ibu Hui Li nama dan nomor telpon adik perempuannya yang di Batam itu. Tak hanya sampai di sini, ia pun bersegera menelpon adik perempuannya untuk berprakarsa mencari dan membantu Ibu Hui Li semaksimal mungkin. Saudari di Batam tersebut kemudian menawarkan kepada Ibu Hui Li untuk membantu mengawasi usaha salon yang dimilikinya. Ibu Hui Li sungguh merasakan penyertaan Tuhan begitu nyata. Ia yakin bahwa Tuhan- lah yang telah menggerakkan para saudari seiman tersebut membantunya.
Tak lama kemudian, Ibu Hui Li mulai mengikuti kebaktian di sebuah gereja di Batam, bahkan terlibat dalam pelayanan penginjilan. Ia menceritakan pengalaman hidupnya kepada banyak orang. Ibu Hui Li juga mengambil prakarsa mengakui kesalahannya kepada suaminya sehingga hubungan mereka berdua menjadi harmonis kembali. Tak lama kemudian, Ibu Hui Li mulai membuka usaha salonnya, dan meminta suami serta kedua anak yang sudah menyelesaikan pendidikan mereka untuk datang ke Batam. Mereka berdua suami istri bersama-sama mengurus usaha salon tersebut. Puji Tuhan, usaha salon mereka berjalan makin lama makin maju, dan keluarga mereka bisa bersatu kembali. Yang terlebih indah adalah bahwa sang suami pun sekarang sudah aktif berbakti di sebuah gereja di Batam. Ibu Hui Li menyatakan, segala sesuatu yang mereka miliki sekarang ini, semua karena anugerah TUHAN!
sumber:hokimtong.org

13 Okt 2013

Pertobatan Seorang Master Feng Shui

Posted by Unknown on 20:33 with No comments
Saya dilahirkan dan tinggal di daerah Pemakaman Tionghoa Sukhawadee di Nong Khee, Thailand. Leluhur saya berimigrasi dari Cina dan menetap di Provinsi Chonburi. Saya belajar ilmu Feng Shui dan astrologi sejak usia 7 tahun dari beberapa guru yang melakukan upacara spiritual di tempat pemakaman.
Saya senang memperhatikan upacara yang dilakukan oleh guru-guru Feng Shui, seperti berkomunikasi dengan roh-roh, mengusir roh jahat, dan berkomunikasi dengan roh orang mati. Sekalipun masih kecil, saya sangat tertarik dan dapat dengan baik menghafal metode-metode meramal dan juga berbagai prosedur upacara berkaitan dengan Feng Shui di tempat pemakaman. Dalam studi saya tentang ilmu Feng Shui, saya menemukan bahwa pengetahuan ini bukan saja berlaku bagi orang yang sudah mati, melainkan juga bagi yang masih hidup.
Pada usia 20 tahun, saya sudah menjadi seorang konsultan Feng Shui dan peramal yang cukup terkenal; klien saya termasuk politikus, pejabat tinggi negara, dan juga pengusaha. Bahkan, tokoh Feng Shui yang lain datang berkonsultasi pada saya. Upah saya lumayan mahal, dari beberapa ratus Baht hingga beberapa ribu Baht, tergantung tingkat kesulitannya. Saya terlibat dalam desain dan pembangunan beberapa pemakaman di Thailand.
Tahun 1996, saya dipekerjakan oleh Gereja Sapan Luang untuk membangun dan merawat tempat pemakaman milik gereja. Saya dipekerjakan sebagai kepala teknisi tempat pemakaman dan saya masih meneruskan bisnis konsultan Feng Shui saya.
Namun, setiap kali saya bekerja di tempat pemakaman Kristen, saya tidak bisa menahan diri dari bertanya-tanya, "Mengapa keluarga orang-orang Kristen, yang tidak pernah memakai ilmu Feng Shui untuk menguburkan orang mati, menjalani kehidupan yang bahagia dan baik-baik?" Sebaliknya, tempat pemakaman yang dibangun berdasarkan ilmu Feng Shui tidak dapat memberikan kebahagiaan kepada keturunan mereka. Akibatnya, banyak makam leluhur yang dibongkar dan dipindahkan ke tempat lain untuk memperbaiki keberuntungan keturunan mereka, yang ternyata gagal dalam kehidupan pribadi maupun bisnis mereka.
Serangkaian pertanyaan muncul di benak saya. Mengapa keluarga orang-orang Kristen yang mati dan dikuburkan di pemakaman non-Feng Shui itu bahagia dan makmur? Dan juga upacara pemakaman mereka juga menarik: menyanyi lagu-lagu pujian dan khotbah, tidak begitu serius dan formal seperti non-Kristen. Mereka juga tidak kelihatan terlalu sedih.
Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui saya. Suatu hari, saat saya melakukan survei ke pemakaman dan membaca tulisan-tulisan di batu nisan, saya banyak melihat tulisan-tulisan, "Jawab Yesus: 'Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya'"; "Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan"; dan "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku." Saat membaca kalimat-kalimat itu, saya tidak memahami arti kata-kata itu dan saya juga tidak tahu bahwa ayat-ayat itu dari Alkitab.
Pertanyaan-pertanyaan itu saya simpan dalam hati. Di waktu yang bersamaan, saya berusaha untuk mencari kebenaran apakah ilmu Feng Shui benar-benar dapat memperkayakan orang. Saya mulai dengan mengamati bahwa orang-orang yang datang berkonsultasi ke ahli Feng Shui adalah orang-orang kaya karena tarif yang dipasang sangatlah tinggi (jika Feng Shui Master itu terkenal). Saya sangat yakin bahwa tidak ada ahli Feng Shui yang dapat memperkayakan orang karena mereka yang datang semuanya sudah kaya. Alasan mengapa orang kaya berkonsultasi ke ahli Feng Shui adalah karena mereka takut jatuh miskin atau mau menjadi lebih kaya lagi. Sering kali, yang berkonsultasi adalah anggota keluarga dari orang kaya yang telah meninggal, yang meminta untuk menggali dan memindahkan kuburan leluhur mereka ke tempat lain untuk mengubah keberuntungan mereka. Pertanyaan saya adalah mengapa meskipun orang kaya itu dikuburkan sesuai dengan prinsip-prinsip Feng Shui, tetapi keturunan mereka tetap tidak kaya?
Dari situ, pemikiran saya juga berubah dan saya tidak lagi begitu yakin akan kebenaran prinsip-prinsip Feng Shui. Namun, banyak orang yang masih datang ke saya dan saya hanya membantu mereka untuk menyenangkan mereka. Tidak lama setelah itu, saya diminta untuk membantu di proyek pemakaman milik Gereja Saphan Luang di daerah Nakhoin Pathom. Saya kaget melihat lokasi pemakaman itu yang terletak di antara rel kereta api (di belakang) dan persimpangan T (di depan), yang menurut Feng Shui sangat tidak baik. Menurut ilmu Feng Shui, lokasi itu akan membawa sial dan kemiskinan pada keturunan orang yang dimakamkan di situ. Namun, setelah satu minggu bekerja di sana, saya melihat dari batu-batu nisan di situ bahwa keturunan mereka yang dimakamkan di sana merupakan orang-orang terkenal dan kaya di dalam masyarakat Thailand pada waktu itu.
Fakta ini membuat saya bertanya kepada beberapa ahli Feng Shui yang terkenal, "Mengapa ilmu Feng Shui tidak berpengaruh terhadap orang Kristen?" Kebanyakan dari mereka memberi tahu saya, "Karena mereka punya Tuhan!"
Saya juga punya kesempatan untuk menanyakan pada salah satu guru yang paling ternama di Thailand tentang mengapa orang-orang Kristen tetap baik-baik dan bahagia sekalipun mereka tidak memperlakukan prinsip-prinsip Feng Shui, seperti mencari tahu tentang hari dan waktu yang membawa keuntungan; meramal nasib berdasarkan bulan dan tahun lahir; atau berkonsultasi tentang Feng Shui. Guru ini dengan enggan memberi tahu saya, "Memiliki Tuhan mereka sudah cukup bagi orang-orang Kristen!"
Jawabannya membuat saya bingung dan saya berpikir, "Wah, bagaimana dengan saya? Bagaimana dengan semua yang telah saya pelajari dan terapkan. Bagaimana dengan begitu banyak waktu yang saya pakai untuk menimba pengetahuan tentang Feng Shui? Mana yang benar dan sejati, Feng Shui atau Kekristenan?"
Semakin saya memikirkan hal ini, semakin saya ingin mengenal Allah orang-orang Kristen. Namun, saya masih belum mempunyai kesempatan untuk mengenal-Nya karena saya tidak tahu harus bermula dari mana! Saya tidak tahu bagaimana untuk mengenal-Nya!
Di pertengahan tahun 2005, saya menghadapi banyak sekali tantangan dalam pekerjaan saya, sampai-sampai ada yang menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi saya. Namun, sekalipun saya sudah mengetahui bahwa saya akan menghadapi hal yang tidak beruntung pada hari itu, saya tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengubah nasib saya atau meringankan kesialan saya.
Saat saya tertekan karena tidak dapat menuntaskan permasalahan, saya akan bermeditasi untuk mencari ketenangan agar dapat menemukan solusi, namun sia-sia. Pada waktu itu, saya diberi sebuah buku berjudul, "Kuasa kehidupan" yang berisi kesaksian orang-orang Kristen di Thailand dari setiap lapisan masyarakat.
Pada awalnya, saya tidak memercayai apa yang tertulis dalam buku itu. Namun, karena saya sudah terjepit dan tidak ada jalan ke luar, saya mulai membuka buku itu. Saya tiba pada kalimat yang berkata, "… jika kita tidak mengakui dosa-dosa kita pada Allah, apa yang akan terjadi dengan hidup kita?" Entah mengapa, tiba-tiba saya menyadari bahwa saya adalah orang yang sangat berdosa karena telah melakukan banyak hal yang menjijikkan.
Saat itu juga, saya mengakui semua dosa-dosa yang telah saya lakukan dan berkata pada Tuhan, "Saya orang berdosa. Saya meminta kesempatan dari Engkau untuk menjadi orang baik dan menerima hidup yang baru." Setelah doa itu, saya merasa dihibur secara spiritual dan mental.
Anggota komite tempat pemakaman selalu melakukan kunjungan kerja sebulan sekali pada hari Sabtu ke tempat saya bertugas. Di bulan Juli tahun 2005 itu, saya tidak sabar menanti kunjungan mereka. Pada hari itu, entah mengapa Pendeta Wirat Wongsantichon menghadiahi saya sebuah Alkitab. Saya bertanya kepadanya mengapa ia memberi saya kado dan ia menjawab, "Saya tidak tahu!" Saat kami makan siang bersama, saya berkata dalam hati, "Mengapa tidak ada yang mengundang saya ke gereja?" Belum lama setelah itu, Penatua Tawee Suwatpanit menoleh ke saya dan berkata, "Preecha, Anda seharusnya datang ke gereja, setidaknya satu kali." Saya langsung menjawab bahwa saya akan ke gereja keesokan harinya (hari Minggu).
Pada hari Minggu itu, ditemani oleh anak saya, saya menyetir hampir 250 km (PP) ke gereja yang berlokasi di Bangkok. Pada hari itulah, saya pertama kalinya mengalami dan melihat orang-orang Kristen menyembah Allah mereka. Saya memberi tahu anak saya bahwa kita harus dengan kuat berpegang pada prinsip-prinsip Kristiani dan mengabdi pada Allah orang Kristen. Dan, kita harus berani memberi tahu orang lain bahwa kita adalah Kristen dan harus membaca Alkitab dengan teratur. Setahun kemudian, pada tahun 2006, saya membuka hati dan jiwa untuk memercayai dan menyerahkan seluruh kehidupan saya kepada Allah dan dibaptis. Istri dan anak perempuan saya juga mengikuti langkah saya tidak lama setelah itu. Suatu mukjizat terjadi di dalam keluarga kami. Ayah saya yang selama 20 tahun tidak pernah tinggal serumah dengan kami, kembali dan saat itulah untuk pertama kalinya keluarga kami menjadi utuh. Setelah itu, saya mengikuti pelatihan di gereja tentang "Mengikuti Kristus", dan saya mulai memahami lebih dalam tentang kekristenan.
Klien-klien lama saya tetap menghubungi saya untuk membantu dalam hal Feng Shui. Setelah berkonsultasi dengan hamba Tuhan di gereja, saya merasa lega dan bersemangat untuk bertemu dengan klien saya, untuk memberi tahu mereka tentang Tuhan. Namun, di sisi lain, saya juga sangat khawatir jika saya berhenti menjadi seorang konsultan Feng Shui, bagaimana saya akan menghidupi keluarga saya. Pada suatu malam, saya membalik Alkitab dan ayat yang saya baca berkata, "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku." (Mazmur 23:1) Ayat itu menguatkan hati saya. Tidak lama setelah itu, saya mendapat proyek membangun tempat pemakaman untuk Gereja Piamrak dan Gereja Maitreechit.
Sejak itu, hidup saya berubah. Saya mempunyai kesempatan bukan saja untuk mengabarkan firman Tuhan pada orang yang tidak percaya (yang mendatangi saya untuk konsultasi Feng Shui), melainkan juga mendorong orang-orang Kristen yang lemah, yang masih mempercayai Feng Shui. Saya menyakinkan mereka bahwa Allah kita besar karena sekalipun saya seorang ahli Feng Shui, saya telah bertobat 180 derajat dan menyembah Dia. Saya selalu mengimbau mereka, "Jangan menyerah, berimanlah pada Allah!"
Jika Anda adalah anak-anak Allah, janganlah khawatir tentang kehidupan atau masa depan Anda. Feng Shui maupun bintang-bintang di langit tidak memiliki pengaruh atas Anda karena Allah Mahakuasa, Ia memimpin dan mengarahkan hidup Anda. Dia adalah Tuan atas kehidupan Anda. Karena, "Sesungguhnya aku tahu, bahwa TUHAN itu maha besar, dan Tuhan kita melebihi segala allah." (Mazmur 135:5)
sumber:kesaksian.sabda.org