Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.(Matius 11:28)
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan

16 Des 2013

Mengapa Natal merupakan sebuah berita sukacita terbesar? Apakah dengan Natal maka semua masalah kita tidak ada lagi? Tentu tidak demikian, namun di atas masalah itu tetap ada sukacita. Natal membuat kita hidup dalam kepastian, karena itu tidak perlu hidup dalam ketakutan lagi, Yesus sudah memberikan jaminan pembelaan dan pemeliharaan yang sempurna. Ada pelajaran luar biasa yang bisa kita ambil dari peristiwa Natal yaitu :
Kasih Allah yang Tidak Terbatas (Yohanes 3:16)
Karena kasih-Nya yang tak terbatas itulah yang membuat kita menyadari akan kasih-Nya yang sempurna dan penyertaan-Nya yang selalu ada untuk kita. Karena itu sama seperti yang tertulis di Alkitab, kita pun dapat berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Justru di tengah masalah itu, kasih Yesus mengalir dan memberikan kekuatan bagi kita. Natal akan menyadarkan kita akan kasih itu.
Terang Itu Telah Ada di Dalam Hidup Kita (Yohanes 3:19-21)
Natal berbicara tentang terang. Dimana ada terang, di situ ada sukacita. Karena itu, sebagai orang percaya kita harus hidup dalam terang Tuhan, sebab di dalam terang tidak ada dosa dan kejahatan, melainkan sukacita dan damai sejahtera.
Allah Pasti Menyertai Kita (Matius 1:23)
Berbicara tentang penyertaan Tuhan, tidak penting dimana kita sedang berada, kemana kita harus berjalan, yang penting adalah kita mengetahui dan meyakini bahwa kita berjalan bersama-sama dengan Allah.
Sesungguhnya Natal akan meneguhkan iman / keyakinan kita akan janji pembelaan dan pemeliharaan Allah yang sempurna, yaitu kepastian hidup berkemenangan. Itulah makna Natal yang sesungguhnya.
sumber:jawaban.com

5 Okt 2013

Kristus Sumber Hidup

Posted by Unknown on 19:24 with No comments
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." (Yohanes 6:35)
Tanpa pencerahan Roh Kudus, tidak mungkin nalar kita bisa menembus dimensi rohani. Hal ini terbukti setelah Yesus melakukan mujizat 5 roti dan 2 ikan, massa hendak secara paksa merajakan Yesus dengan motivasi yang jelas terpancang bukan pada hal rohani, melainkan hal materi. Ketika kerumunan massa mengikut Yesus ke seberang laut Galilea keesokan harinya, ternyata Yesus tidak lagi melakukan mujizat seperti kemarin, segera mereka membandingkan Yesus dengan Musa. Yesus memberi mereka roti dan ikan, sedangkan Musa memberi manna dari sorga, Yesus mengenyangkan ribuan orang, sedangkan Musa mengenyangkan jutaan orang, Yesus melakukan mujizat 5 roti dan 2 ikan hanya 1 kali, sedangkan Musa memberi makan orang Israel di padang belantara selama 40 tahun, jadi kesimpulannya Musa lebih hebat dari Yesus.
Walaupun Yesus dengan tegas menjelaskan kepada mereka bahwa bukan Musa yang memberi manna melainkan Bapa di sorga, bukan manna materi yang penting, tetapi roti hidup yang kekal, karena manna bersifat fana, sedang roti hidup adalah abadi. Dan Roti Hidup itu adalah Dia sendiri yang berhadapan dengan mereka, tetapi penjelasan ini tetap tidak bisa merubah konsep yang sudah tertanam dalam-dalam pada benak mereka.
Rupanya konsep yang serupa juga ada pada murid-murid Tuhan, yang merindukan Yesus datang sebagai Mesias politik yang akan membangun kerajaan Israel dan melepaskan mereka dari cengkeraman bangsa Romawi. Hal ini terbukti setelah Yesus bangkit dari kematian dan selama 40 hari bicara tentang banyak hal-hal kerajaan Allah (lihat Kisah Rasul 1:3-4), tetapi konsep mereka tentang Mesias politik yang akan membangun Kerajaan Israel (baca: materi) tetap belum berubah, “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:6).
Setelah Yesus bangkit dari kematian Roh Kudus turun, memberi pencerahan dalam hati mereka baru bisa mengerti akan isi Kitab Suci (lihat Yoh. 2:21-22). Mereka baru mengerti tujuan Yesus datang ke dunia, mati dan bangkit bukan berpusat pada hal-hal yang bersifat materi, melainkan rohani. Bukan berpusat pada hal-hal yang bersifat materi, melainkan rohani. Yesus adalah Roti Hidup, Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup, Dia adalah Sumber Hidup yang kekal.
Bukankah masih banyak orang yang mengaku dirinya adalah pengikut Kristus, laskar Kristus, bahkan Hamba Kristus yang konsepnya masih terpancang pada hal-hal materi, berkat, kekayaan, kedudukan seperti murid-murid Tuhan sebelum mendapat pencerahan Roh Kudus? Bertobatlah! Mohonlah pencerahan Roh Kudus! Agar kita benar-benar mengerti akan isi Kitab Suci, kiranya Puji Hormat hanya bagi Tuhan, Sumber Hidup kita sampai selama-lamanya, amin.
sumber:gkagloria.or.id/warta

11 Agu 2013

TUHAN YESUS MENCINTAI SETIAP ORANG.
Video Klip

14 Jul 2013

Kepastian Keselamatan

Posted by Unknown on 19:47 with No comments
KEPASTIAN KESELAMATAN
Ev. Gito T. Wicaksono, S.Sos., M.Div.
Di dunia ini ada 4 jenis manusia;
Diselamatkan - tidak yakin akan keselamatannya (pergumulan)
Tidak diselamatkan - yakin dirinya diselamatkan (percaya diri – tidak berbuah)
Diselamatkan - yakin akan keselamatannya (berbuah
) Tidak diselamatkan – tidak yakin diselamatkan (terhilang)
Mengapa keselamatan kita bersifat pasti? Karena keselamatan kita dikerjakan oleh Allah, bukan berdasarkan usaha kita. Jika keselamatan adalah usaha kita, atau 50-50, maka bukan saja keselamatan itu bisa hilang, tetapi pasti hilang.
Matius 22:14, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”
Lukas 18:7, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya”
Kisah Para Rasul 13:48, “…dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.”
Roma 8:29-30, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya.”
Efesus 1:4-5, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,”
Harus dibedakan: kepastian keselamatan dan ketidakyakinan akan keselamatan. Keselamatan dari Allah adalah kepastian, namun siapa yang diselamatkan tidak ada yang tahu. Maka, keselamatan adalah kepastian, namun memahami diri diselamatkan adalah sebuah proses pergumulan hidup.
John Calvin: “Ketika kita mengajarkan bahwa iman haruslah yakin dan pasti, kita tidak dapat membayangkan adanya keyakinan yang tidak ternodai oleh keraguan, atau kepastian yang tidak diserang oleh rasa was-was. Di sisi lain, kita berkata bahwa orang-orang percaya terus-menerus berada di dalam konflik dengan rasa tidak percaya mereka sendiri” (Institutio III.ii.17)
Keselamatan Itu Pasti
“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” (2Kor. 13:5)
“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1Yoh. 5:13)
“Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah. Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2 Kor. 1:20-22).
“supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus,” (Kol. 2:2)
“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan- Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim. 1:12)
“Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya” (Ef. 3:12)
“Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu” (1Tes. 1:5)
“Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1Yoh. 3:24)
Keyakinan yang Diuji
Keselamatan dari Allah layak untuk diyakini, tetapi keyakinan adalah sebuah proses seumur hidup. Itulah sebabnya mengapa sepanjang hidup kita terus mengalami ujian!
“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1Ptr. 1:6-7)
Perjuangan kita belum selesai. Maka, “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh” (2Ptr. 1:10).
Pekerjaan Allah hanya ada yang pasti, keselamatan adalah karya Allah yang pasti. Tetapi membutuhkan suatu pergumulan untuk mengerti apaka kita secara pribadi diselamatkan oleh Allah? Jika ya, maka itu akan terlihat dari hidup kita. Kepastian keselamatan tidak sama dengan percaya diri (self-confidence), tetapi keyakinan kita dikerjakan oleh Roh Kudus.
Sumber: www.remove. or.id
sumber: grii-ngagel.org

8 Jul 2013

Harta Dunia Dibanding Harta Sorgawi

Posted by Unknown on 20:56 with No comments
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19)
Manusia sangat rentan untuk jatuh dalam dosa berkaitan dengan aktifitas rohani, kemunafikan di balik kehidupan agama yang dapat dilihat orang dan yang tampak bersifat baik dan saleh. Tuhan Yesus memperingatkan kita agar tidak mencari kehormatan manusia (beberapa kali khotbah minggu yang lalu). Dan hari ini Tuhan Yesus memperingatkan kita agar kita tidak mengejar kekayaan dunia. Kita harus berjaga-jaga, supaya kita tidak menjadi orang-orang munafik dan jatuh dalam jerat iblis dalam hal harta duniawi ini.
Dalam ayat 19, mengapa Tuhan Yesus dengan kata “jangan” mengumpulkan harta di bumi, apa alasannya? Karena harta di bumi dapat dirusak oleh ngengat dan karat, tindak kekerasan, pencuri dapat membongkar dan mencurinya, tidak ada barang berharga yang disimpan dengan aman di dunia ini.
Ayat 20, kumpulkanlah bagimu harta di sorga,....” harta sorga adalah satu-satunya harta sejati yang Tuhan berikan bagi anak-anakNya. Harta di sorga aman karena tidak akan rusak, tidak akan ada ngengat dan karat yang bisa merusak, tidak ada kekuatan/kekerasan yang dapat merampasnya, pencuri tidak dapat mencurinya. Ini adalah kebahagiaan yang melebihi dan melampaui semua yang ada di dunia.
Ayat 21, di mana hartamu berada (dibumi/disorga) disitu juga hatimu berada. Itulah sebabnya kita harus berlaku benar dan bijak dalam memilih harta kita, sebab sifat pikiran kita dan akibatnya tujuan hidup kita, akan bersifat kedagingan/Rohani, duniawi/sorgawi menuruti pilihan kita. Hati mengikuti harta (Matthew Henry memberi contoh) sama seperti jarum akan mengikuti magnet, bunga matahari akan mengikuti arah sinar matahari. Di mana hartamu berada di situ nilai, harga diri, perasaan, keinginan, kekuatiran, perhatian, harapan, dll.
Ayat 24, “tidak seorang pun yang dapat mengabdi kepada dua tuan (Tuhan dan Mamon) karena apabila terjadi maka membenci yang satu dan akan mengasihi yang lain. Akan setia kepada yang satu dan tidak mengindahkan yang lain. Mamon adalah sebuah kata bahasa Aram yang berarti keuntungan. Matthew Henry mengatakan, apapun di dunia ini yang merupakan atau yang kita anggap sebagai keuntungan (Flp. 3:7) adalah mamon. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup adalah mamon, dan mereka mengabdi kepadanya. Bagi sebagian orang, perut mereka adalah mamon (Flp. 3:19). Bagi sebagian yang lain, kenyamanan, tidur, waktu luang adalah mamon bagi mereka (Amsal 6:9). Bagi yang lain, kekayaan duniawi (Yak. 4:13). Mamon tidak dapat dilayani bersama Allah, kita tidak dapat mengabdi kepada Mamon dan Allah.
Mari kita mengevaluasi diri kita masing-masing, apa yang kita cari dan kejar dalam hidup ini, harta duniawi atau harta sorgawi? Harta duniawi sementara, tetapi harta sorgawi bernilai kekal. Dalam hidup ini, kepada siapa kita mengabdi, kepada mamon atau Tuhan Yesus?
sumber:gkagloria.or.id/warta

18 Jun 2013

Nyawa Nan Berharga

Posted by Unknown on 21:01 with No comments
"A pa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26)
Banyak orang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk mencari dan mengumpulkan harta; setelah mendapatkan, uangnya dipakai untuk membeli kembali kesehatannya yang terhilang, yang seringkali sudah tidak bisa diperoleh kembali. Ini adalah salah satu ironi terbesar dalam kehidupan manusia, yang terjadi karena konsep nilai yang salah tentang hidup, dan tentang nilai diri manusia itu sendiri. Menanggapi kenyataan yang ironis seperti itu, yang lebih bijak mulai memberikan nasehat, bahwa yang paling penting untuk dijaga itu adalah kesehatan, dan bukan harta.
Ketika kesehatannya menurun, orang mulai sadar dan cemas karena ancaman yang muncul ini bukan saja berhubungan dengan kesehatan, tapi pada akhirnya tertuju kepada nyawanya. Kesadaran instinktif muncul bahwa sesungguhnya nyawanya lebih berharga dari apapun.
Di dalam kehidupan yang sudah cemar dosa, manusia memang sudah kehilangan konsep nilai yang benar sehingga orang lebih mementingkan bungkus dari pada isi, kuantitas dari pada kualitas. Bagaimana pun, manusia masih mampu menyadari bahwa nyawanya sendiri itulah yang lebih bernilai. Tapi, Tuhan Yesus meyampaikan suatu konsep nilai yang lebih tinggi dari pada apa yang bisa manusia pikirkan.
Manusia bisa mengatakan bahwa nyawa itu paling penting dan berharga, tapi hanya dari perspektif kesementaraan, dari perspektif pencapaian atau dari perspektif kepentingan diri sendiri. Di sini Tuhan menyampaikan suatu konsep nilai baru yang paling radikal, bahwa Dia, rela menyerahkan nyawa-Nya sendiri demi untuk mendapatkan kembali manusia yang terhilang. Senilai itulah nyawa manusia di mata Tuhan. Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dan Dia datang untuk menyerahkan hidup-Nya, supaya manusia sadar bahwa bagi Allah sang Pencipta, nyawa manusia lebih bernilai dari harta sedunia, karena Dia telah menebus manusia berdosa dengan nyawa Anak-Nya sendiri.
Dengan apa Saudara menilai diri sendiri? Dengan pencapaian, atau harta, atau karena mengerti bahwa Dia telah menebus kita dengan nyawa-Nya sendiri? Setinggi itulah nyawa kita di mata Tuhan. Banyak orang yang belum pernah tahu nilai nyawanya bagi Tuhan, maukah kita memberi tahu mereka?
sumber:gkagloria.or.id/warta

12 Des 2011

BERITA SUKACITA

Posted by Unknown on 19:36 with No comments
"Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Lukas 2:11)
Berita sukacita/ Sukacita Natal sudah ada sekitar 2000 tahun lebih yang lalu, yang datangnya dari Allah sendiri yang begitu mencintai umat ciptaannya yang telah jatuh dalam dosa.(Baca Alkitab Yohanes 3:16). Dimana Allah sebagai Pencipta langit dan bumi telah datang (lahir) dalam dunia menjelma menjadi manusia (Yesus Kristus), dengan mengorbankan diriNya mati diatas Kayu Salib, pada hari yang ke tiga bangkit dari antara orang mati, naik ke Surga duduk disebelah kanan Allah Bapak, hanya untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Ini berarti, manusia yang berdosa memiliki pengharapan untuk menikmati hidup kekal dan terbebas dari hukuman kekal. Sukacita Natal bukan merupakan sukacita, jika sukacita itu hanya tampak dari luar saja, tapi bukan merupakan sebuah sukacita dalam hati. Sukacita Natal juga harus bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri. Bagikan sukacita Natal kepada mereka yang terhina (yang tersisih dari keluarga dan masyarakat).