Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.(Matius 11:28)
Tampilkan postingan dengan label OTHERS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OTHERS. Tampilkan semua postingan

30 Sep 2012

I ntegritas adalah hadiah yang jika ternoda, Anda tidak mungkin bisa mendapatkannya bersih kembali. Integritas bukan hanya tentang bagaimana Anda menangani situasi bisnis, tapi bagaimana Anda bertindak dalam segala hal dari rumah Anda sampai dengan bisnis Anda dan segala sesuatu di antaranya. Seorang pemimpin tidak boleh memiliki integritas yang dipertanyakan. Jika Anda membangun integritas ke dalam karakter Anda, bagaimana Anda bertindak bahkan dalam kehidupan pribadi Anda, Anda akan menjadi orang yang tidak dapat dipertanyakan tentang motif Anda. Orang akan mempercayai Anda dengan cepat dan akan tetap setia selamanya selama Anda menjaga tindakan Anda. Harapan Anda pada orang lain harus dipenuhi oleh Anda lebih dulu. Jika Anda mengharapkan orang lain untuk tepat waktu untuk pertemuan, maka integritas Anda dengan manajemen waktu Anda harus tidak tercela. Sekali Anda mengharapkan lebih dari orang lain, tanpa bisa melakukan hal yang sama, karakter Anda menjadi ternoda. Integritas adalah tentang kondisi utuh atau sempurna. Ini berarti bahwa tuntutan Anda harus sempurna, atau Anda akan kehilangan dukungan. Integritas memiliki arti yang jauh lebih dalam untuk itu, tapi intinya adalah, Anda perlu mengembangkan integritas sebagai bagian dari karakter Anda. Bagian dari proses ini yaitu merenungkan apa yang Anda harapkan dari orang lain dan memastikan bahwa Anda dapat mencerminkan kebutuhan yang sama bagi anda. Luangkan waktu setiap malam untuk membuat catatan dari apa yang Anda lakukan dengan baik dan apa yang Anda tidak lakukan dengan baik. Mintalah umpan balik dari orang lain dan memutuskan untuk mengembangkan kebiasaan menjadi lebih baik sehari-hari. Integritas Anda setelah diintegrasikan ke dalam karakter Anda akan membantu membawa Anda ke tingkat baru kepemimpinan. Jika Anda meluangkan waktu untuk merenung dan memutuskan untuk berbuat lebih baik, karakter Anda akan mencerminkan kebenaran dari siapa Anda, kata-kata tidak akan diperlukan. Jika Anda telah dipanggil untuk menjadi pemimpin, ambil waktu untuk benar-benar mengembangkan karakter Anda sepenuhnya. Ada begitu banyak untuk ditambahkan ke karakter Anda. Jika Anda ingin dihormati, berikan hormat. Mulailah membangun karakter, dimulai dengan integritas.
sumber:artikelpria

18 Sep 2012

E volusi telah mengubah bentuk manusia masa lalu menjadi bentuk yang sekarang Anda lihat. Namun menurut para ahli, evolusi masih terus terjadi hingga sekarang. Prediksi bentuk tubuh manusia 1000 tahun mendatangnya pun dilakukan. Berikut adalah gambaran fisik tubuh manusia yang diprediksi oleh para ahli dalam 1000 tahun dari sekarang, seperti dilansir Thesun, Sabtu (6/10/2012): 1. Manusia akan menjadi lebih tinggi, sekitar 180-210 cm, karena faktor gizi yang lebih baik dan kemajuan ilmu kedokteran. Osteopath Garry Trainer, dari London, mengatakan bahwa tinggi rata-rata orang Amerika adalah sekitar 1inci lebih tinggi dari tahun 1960 lalu. 2. Usus menjadi lebih pendek sehingga tidak menyerap lebih banyak lemak dan gula. "Ini adalah cara alami untuk mencegah kegemukan," ujar dokter gigi Dr Philip Stemmer. 3. Jika kesuburan pria menurun jauh, ukuran testis akan semakin kecil. 4. Lengan dan jari lebih panjang untuk mengurangi kebutuhan mencapai ujung terlalu jauh. Saraf di tangan dan jari-jari akan meningkat karena penggunaan perangkat yang lebih besar seperti iPhone yang membutuhkan koordinasi mata-tangan yang kompleks. 5. Ukuran otak menjadi lebih kecil karena tugas menghafal dan berpikir lebih banyak dilakukan oleh komputer. 6. Mata akan semakin besar untuk mengkompensasi mulut yang semakin kecil. "Komunikasi akan bergantung pada ekspresi wajah dan gerakan mata," ujar Cary Cooper dari Lancaster University. 7. Dokter gigi Dr Stemmer juga berpikir manusia 1000 tahun mendatang akan memiliki gigi lebih sedikit karena makanan semakin lembut sehingga tidak banyak mengunyah dan menggigit. "Kita bahkan bisa mendapatkan nutrisi dari cairan atau pil di masa depan, yang bisa berarti gigi semakin kurang dan rahang surut," ujarnya. 8. Memiliki dagu quadruple. "Tubuh kita dirancang untuk makan lebih sedikit dan menggunakan energi lebih dari gaya hidup modern yang dibutuhkan," kata Rajiv Grover, konsultan ahli bedah plastik. 9. Setiap orang akan memiliki bentuk hidung yang sama karena iklim kurang berpengaruh. Pengkondisian udara sudah bergantung pada AC atau pemanas sentral. 10. Penggunaan pemanas dan pakaian hangat membuat manusia masa depan memiliki rambut yang sedikit atau botak, tapi akan ada lebih banyak keriput akibat terlalu sering menggunakan perangkat elektronik. 11. Leher kalkun kendor karena ektra matahari akan menyebabkan kulit kendor dan kelopak mata. Dan akan ada kulit yang lebih gelap karena orang bergerak mengelilingi planet dan terjadi percampuran ras. sumber: detik health

8 Sep 2012

Kepastian Keselamatan

Posted by Unknown on 20:28 with No comments
KEPASTIAN KESELAMATAN
Ev. Gito T. Wicaksono, S.Sos., M.Div.
Di dunia ini ada 4 jenis manusia;
Diselamatkan - tidak yakin akan keselamatannya (pergumulan)
Tidak diselamatkan - yakin dirinya diselamatkan (percaya diri – tidak berbuah)
Diselamatkan - yakin akan keselamatannya (berbuah)
Tidak diselamatkan – tidak yakin diselamatkan (terhilang)
M engapa keselamatan kita bersifat pasti? Karena keselamatan kita dikerjakan oleh Allah, bukan berdasarkan usaha kita. Jika keselamatan adalah usaha kita, atau 50-50, maka bukan saja keselamatan itu bisa hilang, tetapi pasti hilang. Matius 22:14, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Lukas 18:7, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya” Kisah Para Rasul 13:48, “…dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Roma 8:29-30, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya.” Efesus 1:4-5, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,” Harus dibedakan: kepastian keselamatan dan ketidakyakinan akan keselamatan. Keselamatan dari Allah adalah kepastian, namun siapa yang diselamatkan tidak ada yang tahu. Maka, keselamatan adalah kepastian, namun memahami diri diselamatkan adalah sebuah proses pergumulan hidup. John Calvin: “Ketika kita mengajarkan bahwa iman haruslah yakin dan pasti, kita tidak dapat membayangkan adanya keyakinan yang tidak ternodai oleh keraguan, atau kepastian yang tidak diserang oleh rasa was-was. Di sisi lain, kita berkata bahwa orang-orang percaya terus-menerus berada di dalam konflik dengan rasa tidak percaya mereka sendiri” (Institutio III.ii.17) Keselamatan Itu Pasti “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” (2Kor. 13:5) “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1Yoh. 5:13) “Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah. Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2 Kor. 1:20-22). “supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus,” (Kol. 2:2) “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan- Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim. 1:12) “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya” (Ef. 3:12) “Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu” (1Tes. 1:5) “Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1Yoh. 3:24) Keyakinan yang Diuji Keselamatan dari Allah layak untuk diyakini, tetapi keyakinan adalah sebuah proses seumur hidup. Itulah sebabnya mengapa sepanjang hidup kita terus mengalami ujian! “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1Ptr. 1:6-7) Perjuangan kita belum selesai. Maka, “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh” (2Ptr. 1:10). Pekerjaan Allah hanya ada yang pasti, keselamatan adalah karya Allah yang pasti. Tetapi membutuhkan suatu pergumulan untuk mengerti apaka kita secara pribadi diselamatkan oleh Allah? Jika ya, maka itu akan terlihat dari hidup kita. Kepastian keselamatan tidak sama dengan percaya diri (self-confidence), tetapi keyakinan kita dikerjakan oleh Roh Kudus. sumber: grii-ngagel.org

31 Jul 2012

Air Laut Bisa Diminum

Posted by Unknown on 20:35 with No comments
A

khir-akhir ini kita sering mendengar sistem penyulingan air yang dikenal dengan teknologi Reverse Osmosis atau yang lebih dikenal dengan RO. Meskipun bukan termasuk teknologi baru (penggunannya sudah dimulai pada tahun 1970-an untuk memurnikan air laut hingga layak dikonsumsi sebagaimana halnya air tawar) tapi mungkin masih belum banyak orang yang mengenal tekonologi ini. Padahal teknologi pengolahan air RO ini sudah di kenal luas dan digunakan oleh negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang dan Singapura.

Air adalah merupakan unsur utama kehidupan yang harus dimanfaatkan secara bijak. Kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Kecenderungan yang terjadi adalah berkurangnya ketersediaan air bersih itu dari hari ke hari. Semakin meningkatnya populasi manusia, semakin besar pula kebutuhan akan air minum. Sehingga secara relatif, ketersediaan air bersih tersebut berkurang. Bahkan menurut pendapat beberapa ahli, pada suatu saat nanti, akan terjadi ‘pertarungan’ untuk memperebutkan air bersih ini terlebih lagi kondisi ini diperparah dengan pengambilan air bawah tanah yang saat ini juga sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Diperkirakan, 10 tahun mendatang, warga akan kesulitan mendapatkan air bersih karena tidak ketatnya pengawasan pengambilan air tanah.

Samsuhadi (Dosen Luar Biasa Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Trisakti) pada 2005 pernah meneliti, jika pada 2025 penduduk Jakarta diperkirakan mencapai 27 juta dan setiap orang membutuhkan air bersih 200 liter per hari (termasuk kebutuhan untuk industri), maka kebutuhan air bersih akan mencapai 2.000 juta meter kubik. Sementara pasokan PDAM diperkirakan hanya 645 juta meter kubik, sehingga kebutuhan air tanah akan mencapai 1,355 juta meter kubik.

Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta juga menyatakan, tingginya kebutuhan air di Jakarta yang tidak diimbangi dengan penambahan jaringan dan pasokan ditengarai bakal memicu defisit air dari tahun ke tahun. Saat ini saja, total kebutuhan air baku di DKI Jakarta mencapai 17.700 liter per detik. Dari analisis kebutuhan air di DKI, defisit air baku akan terjadi sepanjang tahun. Tahun 2010 saja, defisit air mencapai 6.857 liter per detik. Lalu pada tahun 2015 diperkirakan akan terjadi defisit sekitar 13.045 liter per detik. Kemudian pada 2020, defisit akan mencapai 28.370 liter per detik.

Angka kebutuhan air yang akan terus meningkat ini, jika tidak dilakukan upaya pelestarian lingkungan di sekitar wilayah Jakarta serta upaya alternatif penyediaan air baku, diperkirakan pada 2025 warga Jakarta akan benar-benar kesulitan mendapatkan air bersih.

Saat ini, operator penyedia air minum PDAM maupun operator swasta lainnya masih mengandalkan cara-cara konvensional berupa pasokan air dari sumber air permukaan seperti sungai dan waduk. Dengan makin berkurangnya sumber air tersebut baik krisis jumlah pasokan hingga penurunan kualitas, krisis air yang sudah menjadi langganan setiap tahun masih akan terus terjadi sepanjang masa. Sebab, diakui atau tidak, selain minimnya pasokan, masalah kualitas air juga menjadi persoalan serius. Air yang mengalir melewati saluran terbuka sangat berpotensi tercemar limbah yang membahayakan. Bahkan, hal itu juga rentan terhadap penyakit. Hal ini diperparah dengan kondisi pipa-pipa distribusi yang sudah berumur puluhan tahun, sehingga ketika air tiba di pelanggan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi pada saat baru diolah. Air bisa keruh, berwarna coklat, hitam atau berbau. Penyulingan air laut dengan teknologi RO merupakan salah satu alternatif solusi keterbatasan pasokan air dalam jangka panjang sebagai langkah antisipasi krisis air yang selama ini terjadi.

Osmosis merupakan perpindahan cairan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melalui membran semipermeabel. Sedangkan RO adalah kebalikan dari osmosis, yaitu perpindahan zat (larutan) dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi melalui sebuah membran. Teknologi ini digunakan untuk pemurnian air dengan mengubah air laut menjadi air tawar hingga siap diminum.

Cara kerjanya adalah dengan mendesakkan air laut melewati membran-membran semipermeable untuk menyaring kandungan garamnya. Kandungan garam yang tersaring disisihkan. Sebagian air laut digunakan untuk melarutkannya. Tekanan yang amat kuat dikenakan di sebelah sumber air agar molekul-molekul air dapat menembus membran RO di sebelahnya. Sebelum didorong ke membran, air melalui beberapa tahap filtrasi (penyaringan) antara lain cartridge (sedimen), karbon blok, dan karbon granular. Kemudian, air didorong dengan tekanan tinggi untuk melewati membran dan menghasilkan air yang murni. Membran RO berteknologi tinggi ini mempunyai pori-pori yang sangat kecil, yaitu hanya 0.0001 mikron (500,000 kali lebih kecil dibandingkan diameter sehelai rambut manusia). Membrane ini memungkinkan penyaringan berbagai bahan mikro organisme, logam berat, bakteri, virus, bahan anorganik dan bahan berbahaya lainnya yang terlarut dalam air. Dengan demikian hanya molekul air saja yang dapat menembus membran tersebut sehingga dapat menghasilkan air yang mencapai kemurnian 99,99 %.
sumber: pustaka.pu.go.id

30 Jun 2012

Makna Kelahiran Kristus

Posted by Unknown on 19:36 with No comments
Oleh: Pdt. William Liem

Ayat Bacaan: Matius 1:18-25
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21)

Setiap hari ada jutaan bayi yang lahir ke dalam dunia ini. 2000 tahun yang lampau, bayi Yesus juga dilahirkan ke dalam dunia. Lalu, adakah perbedaan antara jutaan bayi yang lahir itu dengan bayi Yesus? Satu perbedaan yang jelas adalah bayi-bayi itu adalah hasil dari hubungan biologis antara laki-laki dan perempuan, sedangkan bayi Yesus adalah dari Roh Kudus. Kebenaran ini berulang kali ditekankan dalam ayat 18: “Ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri.” Kemudian ayat 24-25 ditegaskan lagi: “Yusuf mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki, dan Yusuf menamakan Dia Yesus.”
Mengapa bayi Yesus harus berasal dari Roh Kudus? Jawabannya adalah jika bayi Yesus merupakan hasil dari hubungan biologis antara laki-laki dan perempuan, maka bayi Yesus itu akan mewarisi dosa asal. Jika bayi Yesus mewarisi dosa asal, Ia tidak dapat memenuhi syarat untuk melaksanakan beberapa misi dari Allah yang sangat penting bagi umat manusia.

Pertama, Kristus lahir untuk melepaskan kita dari belenggu dosa (ayat 21). Apa itu dosa? Banyak orang mengartikan dosa sebagai perbuatan yang melanggar hukum: mencuri, berzinah, berjudi, berdusta, dsb. Akan tetapi Alkitab mengartikan dosa lebih mendasar. Dalam Roma 7:15-18, Rasul Paulus menggambarkan dosa sbb: “Sebab apa yang aku perbuat aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.”
Menurut Paulus, dosa bukan hanya suatu perbuatan yang melanggar hukum, tapi suatu keberadaan, suatu kekuatan yang bercokol dalam hati manusia. Dosa adalah suatu kekuatan yang mengendalikan manusia untuk melakukan hal-hal buruk. Bilamana seseorang hidup dalam lingkungan yang buruk, berteman dengan orang-orang yang buruk, maka semakin kuatlah kekuatan yang merusak itu.
Banyak orang laki-laki yang menghabiskan uang di meja judi, berzinah, mabuk-mabukan, dsb., ketika diancam akan dicerai oleh isterinya, menangis dan berjanji akan berubah. Satu minggu berikutnya mungkin ia berhasil, tapi minggu berikutnya, ia kembali melakukan hal-hal yang sama, bahkan sekarang lebih ganas lagi. Demikian anak-anak remaja yang terlibat dalam kebiasaan-kebiasaan buruk berjanji akan bertobat dan berubah, tapi tak lama kemudian mengulangi perbuatan yang sama. Masalahnya adalah bukan mereka tidak mau berubah tapi mereka tak mampu berubah. Ini seperti pengakuan Paulus: “Sebab apa yang aku perbuat aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Paulus ingin melakukan apa yang baik, tapi yang jahat yang ia lakukan. Ia sangat putus asa, sehingga berteriak: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Maka benarlah perkataan seorang bijak: “Kenikmatan melampiaskan nafsu hanya berlangsung beberapa menit saja, tapi akibatnya seringkali menjadi penderitaan bertahun-tahun.”
Ada seorang pengusaha yang memiliki dua anak remaja, dengan bisnis yang baik, dan menjalani rumah tangga yang cukup bahagia. Tapi karena ia mulai bergaul dengan teman-teman buruk, yang kemudian mempengaruhinya untuk melakukan ha-hal yang buruk, lama kelamaan ia mulai terikat. Sampai suatu hari, ia pamit kepada keluarganya untuk mencari kekebasan dan kepuasan hidup. Maka mulailah ia bertualang dari satu tempat ke tempat dengan pelampiasan nafsu yang tanpa kendali. Setelah menjalani kehidupan yang liar itu, ia mulai menyesal dan ingin bertobat. Walau bagaimana berusaha, ia tetap tidak bisa berubah dan merasakan keputusasaan yang dalam dan ingin membunuh dirinya. Bersyukur, ia berjumpa dengan sekelompok Kristen yang mengasihinya dan membimbingnya kepada Kristus, dan akhirnya ia dapat memulai hidup baru dalam Kristus.
Bagaimana Kristus menyelamatkan kita dari dosa? Setelah Ia lahir, Ia akan bertumbuh. Pada waktu Ia berumur 33 tahun, Ia ditangkap dan disalibkan. Mengapa Dia disalib? Apakah Ia melakukan suatu kesalahan yang serius? 2 Korintus 5:21 mengatakan: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Selama Yesus hidup, Ia tidak pernah berbuat satu kesalahanpun. Jika Ia disalib, karena Ia dijadikan dosa karena kita. Setelah Ia mati, pada hari ketiga Ia bangkit kembali, dan setelah diangkat ke sorga, Ia mengutus Roh Kudus ke dunia untuk menerapkan keselamatan yang telah dikerjakan oleh Kristus ke dalam hati orang-orang percaya. Maka, barangsiapa yang percaya kepada Kristus, Allah akan mengutus Roh Kudus tinggal dalam hidup orang itu dan memberikan kuasa-Nya untuk menghancurkan kuasa dosa yang membelenggu manusia, sehingga kita dapat merdeka. Ini seperti yang dikatakan oleh Yesus Yohanes 8:28 dikatakan: “Dan kamu akan mengenal kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Kedua, Kristus lahir untuk memberikan kita hidup yang baru. Yesus berkata: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10b). Ada ahli teologia menafsirkan kelimpahan hidup di sini sebagai kelimpahan dalam berkat materi. Menurut mereka, orang Kristen yang percaya Tuhan akan menjadi kaya raya. Bila tujuan Tuhan Yesus datang ke dunia untuk memberikan kelimpahan materi kepada manusia, maka orang kaya yang telah mempunyai harta yang banyak tidak membutuhkan Tuhan Yesus lagi.
Kristus datang untuk memberikan kelimpahan hidup di sini dalam pengertian kepuasan hidup rohani. Bukankah banyak manusia menganggap bila mereka mempunyai harta yang berkelimpahan, berkuasa, dihormati akan memperoleh kepuasan hidup? Akan tetapi Tuhan Yesus pernah berkata perempuan Samaria yang mempunyai 5 suami: “Jika engkau minum dari air sumur ini, engkau akan haus lagi. Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:13-14). Demikian pula dalam Yohanes 7:38-39, Yesus berkata: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”
Melalui ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa ketika seorang percaya kepada Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus akan memberikan hidup yang baru, dan hidup baru ini akan terus memancar dalam diri orang itu sehingga ia merasakan hidupnya berarti dan bertujuan. Arti hidupnya tidak lagi ditentukan karena ia memiliki uang yang banyak, atau kekuasaan yang besar. Ketika seseorang memiliki hidup yang baru, hal-hal yang menjadi kejaran orang-orang duniawi, tidak berarti lagi baginya. Ini seperti yang disaksikan oleh Zakheus. Sebelum berjumpa dengan Kristus fokus hidupnya adalah uang, tapi setelah berjumpa dengan Kristus dan diubahkan, Ia berkata: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Lukas 19:8). Agustinus yang pernah menjalani hidup melampiaskan hawa nafsu yang mengerikan, setelah bertobat, ia menegaskan: “Engkau telah menciptakan kami untuk Engkau dan hati kami tidak tentram sebelum mendapat ketentraman di dalam Engkau.”
Hidup baru yang diberikan oleh Kristus akan menjadikan hidup kita berarti karena kita tahu apa tujuan hidup kita. Segala perjuangan mempunyai makna. Karena hidup ini bermakna, maka hidup mempunyai harapan. C. Neil Strait berkata: “Ambillah seseorang dari hartanya, maka Anda akan menghambatnya. Ambil dari seseorang tujuan hidupnya, maka Anda akan memperlambatnya. Akan tetapi, ambillah seseorang dari harapan hidupnya, maka Anda akan menghentikannya. Manusia dapat hidup tanpa kekayaan, bahkan tanpa tujuan untuk sementara waktu. Ia tidak dapat melanjutkan hidupnya tanpa harapan.”

Ketiga, Kristus lahir untuk menyertai kita selama-lamanya. Malaikat itu berkata Maria: “ …dan mereka akan menamakan Dia Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita.” Banyak ahli teologia berpendapat bahwa ayat ini merupakan pengenapan nubuatan Yesaya 7:14: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu satu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamakan Imanuel.”
Ayat ini merupakan suatu nubuat yang diucapkan oleh nabi Yesaya 700 tahun sebelum kelahiran Tuhan Yesus. Pada waktu tahta raja Ahaz sedang terancam oleh suatu koalisi antara raja Israel (Pekah) dan raja Syria (Rezin). Konspirasi ke dua raja bertujuan untuk meruntuhkan dinasti Daud dan mendirikan sebuah kerajaan sesuai dengan pilihan mereka. Dalam situasi yang gawat ini, Tuhan mengutus Yesaya untuk menyakinkan raja Yehuda Ahaz supaya ia tetap menaruh kepercayaan dan harapannya pada Allah Yehovah dan meminta raja Ahaz meminta suatu tanda dari Tuhan. Tapi raja Ahaz yang jahat itu tidak mau melakukan itu tapi justru lari minta pertolongan dari raja Asyur. Namun, Tuhan tetap memberikan suatu tanda bahwa seorang perempuan akan melahirkan seorang anak, ia akan dinamakan Imanuel. Dengan kelahiran anak itu menyatakan walau raja Ahaz telah meninggalkan Tuhan, tapi Tuhan tetap akan menyertai bangsa Israel dan menyelamatkan mereka dari tangan koalisi raja Israel dan Syria. Di kemudian hari, kelahiran Tuhan Yesus yang disebut Imanuel, akan menjalankan fungsinya, yakni menyertai segenap umat manusia, khususnya bagi mereka yang telah menjadi anak-anak-Nya.
Namun di antara kita ada yang bertanya, bila dikatakan bahwa Tuhan menyertai saya, mengapa hidup saya dipenuhi permasalahan yang datang silih berganti. Yang satu belum selesai, yang lain datang lagi. Ada seorang penulis Kristen yang mencoba menjawab semua pertanyaan ini dengan menulis sebuah karangan yang berbunyi demikian:
Anak-Ku yang tersayang, Manusia sangat bingung dengan cara-Ku bekerja. Mereka pikir pekerjaan-Ku adalah untuk melepaskan mereka dari segala kesulitan. Aku harus memperbaiki setiap situasi buruk dan membuat setiap keadaan menjadi sempurna.
Maaf, itu bukan tugas-Ku. Aku akan memperbaiki beberapa dari keadaanmu, tetapi kamu tetap akan mendapat sejumlah persoalan. Kabar gembiranya adalah bahwa, jika kamu mengenal Aku, kamu akan mengetahui bahwa Aku selalu bersamamu. Aku akan membimbingmu melewati kesukaran-kesukaranmu dan keluar dari sisi yang lain.
Anggaplah kehidupanmu sebagai sebuah hutan belukar, dan Aku adalah pembimbingmu. Aku tidak akan mengubah hutan belukar itu menjadi Disneyland. Namun Aku akan membimbingmu melewati hutan belukar itu. Manakala hidupmu menjadi liar, janganlah takut. Melekat erat-erat sajalah. Aku akan membantumu melewatinya.
Pembimbingmu,
Tuhan.
sumber: artikel gka gloria

10 Jun 2012

Berharap dan Percaya (2)

Posted by Unknown on 17:51 with No comments
Bacaan hari ini: Roma 4:18-22, Ibrani 11:11-12 (lanjutan) “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Roma 4:18) Pelajaran dari sikap Sara membuat kita mengetahui bahwa dalam menghadapi pergumulan hidup, tidak semestinya kita melupakan Tuhan dan mengandalkan hikmat sendiri. Jika kita salah bertindak dan bertentangan dengan kehendak Allah, maka kita dapat mengalami kerugian. Karena itu, kita harus belajar percaya pada pimpinan Tuhan, sekalipun harus menantikan waktu-Nya. Setelah Hagar mengandung dan melahirkan Ismael, Abraham dan Sara kemudian menaruh pengharapan mereka pada Ismael untuk dapat melanjutkan keturunannya (bnd. Kej. 17:18). Tetapi apakah hal ini merupakan ide yang baik? Ternyata tidak! Pada kenyataannya, yang terjadi tidak sesuai dengan harapan Abraham dan Sara. Kehadiran Ismael justru membawa kepahitan dalam rumah tangga Abraham dan Sara. Hagar menjadi angkuh dan menghina Sara. Padahal Sara yakin, ketika pertama kali ia mengusulkan agar Abraham menghampiri Hagar, tentulah karena Sara melihat bahwa Hagar adalah seorang budak yang baik, yang sangat menghormatinya, bahkan mungkin sangat rendah hati dan menyukakan hatinya. Itulah sebabnya ia memilih Hagar dan menaruh harapan bahwa melalui Hagar, keturunan Abraham dapat diteruskan. Tetapi sekali lagi, pengharapan yang ditaruh pada manusia akhirnya mengecewakan. Adalah hal yang wajar, ketika menghadapi pergumulan dan kesulitan hidup, kita mencari pertolongan kepada manusia lain, entah itu suami, istri, orangtua, anak, saudara, famili bahkan teman-teman kita. Tetapi kita harus sadar bahwa sumber pertolongan yang utama adalah Tuhan! Mengapa? Karena manusia bisa saja berubah dan mengecewakan, tetapi Allah tidak! Manusia terbatas, tetapi Allah tidak! Yesaya 2:22 mengatakan: “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih daripada hembusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” Karena itu, janganlah mempercayakan kehidupan Anda kepada manusia, tetapi percayalah pada kehendak dan rencana Tuhan dalam hidup Anda, sebab sekalipun Ia tidak pernah membiarkan dan meninggalkan Anda! sumber:perspektif gka gloria

25 Mei 2012

Berharap dan Percaya (1)

Posted by Unknown on 18:54 with No comments
Bacaan hari ini: Roma 4:18-22, Ibrani 11:11-12 “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Roma 4:18) Berharap dan percaya adalah kata yang mudah diucapkan. Tetapi saat harapan tidak kunjung terjadi dan Allahpun seolah-olah diam, masihkah kita dapat tetap berharap dan percaya kepada-Nya? Hal yang sama terjadi dalam kehidupan Abraham dan Sara. Sebelum mereka sampai pada iman yang demikian luar biasa, mereka harus melalui jalan jatuh-bangun yang tidak mudah, yang akhirnya mengantarkan mereka sampai pada titik untuk berharap dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Apa yang dapat kita pelajari dari teladan iman dan juga kegagalan mereka? Kita dapat belajar berharap pada Tuhan, bukan pada hikmat sendiri. Janji Tuhan pada Abraham dan Sara adalah: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat” (Kej. 12:2). Tetapi kemudian dalam Kejadian 16:1 dicatat bahwa Sara tidak beranak. Bahkan, hingga mereka tiba di Kanaan (10 tahun penantian), tidak ada tanda bahwa Tuhan akan menggenapinya. Akhirnya, karena gelisah, Sara berusaha menjalankan rencana Allah, yakni memberikan keturunan kepada Abraham, dengan cara dan pengertiannya sendiri. Ia memberikan seorang budaknya, Hagar, untuk dihampiri oleh Abraham. Mungkin bagi Sara, inilah tindakan pengorbanan yang benar yang ia lakukan, tetapi itu bukan cara Tuhan. Apa yang menurut Sara sebagai jalan terbaik, justru pada akhirnya menimbulkan banyak kesulitan, kepedihan dan kekecewaan. Bukankah sangat sering kita juga melakukan tindakan yang sama? Ketika persoalan tidak kunjung selesai, sementara Allah terlihat seolah-olah diam dan belum bertindak, kita berusaha seolah-olah mau “membantu” Allah menyelesaikan persoalan kita, yang pada akhirnya justru membawa kita kepada kepedihan dan kesulitan berikutnya. Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Jadi, percayalah pada rencana dan waktu Tuhan. sumber: perspektif gkagloria

27 Jan 2012

Hidup yang Berhasil

Posted by Unknown on 18:49 with No comments

Bacaan hari ini: Matius 28:19-20
“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.” (Amsal 6:6)

Ketika memasuki tahun yang baru ini, banyak kali kita dipengaruhi oleh berbagai macam pendapat tentang kehidupan manusia yang akan datang. Ramalan-ramalan tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan, menjadi komoditas yang sangat laris dan ditunggu-tunggu banyak orang, ketika menapaki tahun yang baru.

Dalam Alkitab yang kita baca hari ini, Penulis Amsal mengingatkan tentang sesuatu yang penting bagi kita yang merindukan suatu kehidupan yang berhasil. Pokok penting yang dinyatakan oleh Penulis Amsal adalah, “jangan malas.” Bila hidup yang Tuhan anugerahkan, kita hidupi dengan kemalasan, maka akan menghasilkan kehidupan yang tidak beruntung. Sebab itu, Penulis Amsal mengajak pembacanya untuk belajar dari semut, sehingga kita dapat memiliki kehidupan yang berhasil.

Pertama, seekor semut adalah binatang yang rajin. Meskipun tanpa pemimpin, pengawas dan pengatur, para semut dapat mengerjakan tugas dan tanggung-jawabnya dengan baik. Pola hidup rajin memberikan kepada kita kesempatan yang luas untuk mengerjakan banyak hal pada bidang kita masing-masing. Kedua, seekor semut adalah binatang yang bekerja keras. Mereka mengumpulkan dan mengusahakan makanan mereka. Ini menunjukkan betapa mereka bersusah payah dengan sekuat tenaga, bekerja untuk mengumpulkan dan mengusahakan makanan mereka. Kerja keras merupakan pola hidup yang akan menghasilkan kehidupan yang berarti dalam kehidupan kita. Tanpa kerja keras, tidak mungkin kita dapat meraih suatu keberhasilan. Ketiga, seekor semut memiliki ketepatan waktu dalam mengumpulkan makanan mereka, baik itu waktu panen dan waktu panas. Ketepatan ini menjadi contoh bagi kita supaya kita juga memiliki prioritas, target dan pengaturan waktu yang efisien sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal. Belajarlah tepat waktu dan tidak menunda-nunda waktu, merupakan suatu kunci hidup yang berhasil. Hari ini, ketika kita memasuki tahun yang baru, sudahkan kita mempersiapkan diri dengan baik? Mari kita berkomitmen untuk menjauhi kemalasan; dan belajar dari semut.

sumber: perspektif gkagloria

24 Jun 2011

Keselamatan Oleh Nama Yesus

Posted by Unknown on 20:23 with No comments
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12)

Sepanjang sejarah, semua agama yang ada di dunia telah mempertanyakan dan berusaha menjawab arah keselamatan kekal manusia. Bagaimana manusia dapat selamat? Apakah ada kehidupan setelah kematian? Kemana manusia setelah meninggal?

Pertanyaan ini digumulkan oleh para pemikir rohani dan filsafat di Barat juga di Timur, tetapi tidak ada yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Jikalau bertanya soal keselamatan, maka akhirnya banyak orang hanya dapat berkata: Semoga saya selamat… Semoga saya diterima oleh-Nya. Tidak demikian bagi kita orang percaya. Firman Tuhan sudah menyatakan dengan jelas bahwa permasalahan manusia akan keselamatan hanya bisa dijawab oleh Tuhan Sang Pencipta manusia itu sendiri. Tidak ada kemampuan manusia untuk dapat membuat satu jalan kepada Allah Bapa. Jalan keluar atas keselamatan manusia telah dilaksanakan dan digenapi oleh Tuhan tanpa campur tangan manusia berdosa. Semua perkara tentang keselamatan hanya bersumber kepada Anugerah Allah yang kekal. Tuhan telah memberikan satu jalan penebusan yang luar biasa. Anak-Nya yang Tunggal telah dikorbankan untuk membuka jalan bagi manusia berdosa agar kita semua boleh berkumpul bersama dengan Allah Bapa di Sorga.

Yang Kekal bersatu dengan yang fana, Yang Kudus bersatu dengan yang telah jatuh dalam dosa, Yang Mencipta bersatu dengan yang dicipta, semua ini dapat terjadi karena satu jalan yang telah Tuhan Yesus buat bagi kita: Dia yang adalah Tuhan lahir ke dunia sebagai manusia, dalam hidup-Nya taat kepada Allah Bapa, bahkan taat sampai mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita dan bangkit pada hari ketiga menyatakan kemenangan atas dosa.

Karena itu tepat sekali saat Petrus menyatakan: Keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. Masalah manusia akan keselamatan hanya dapat diselesaikan oleh Tuhan sendiri. Lalu, apa bagian manusia? Kita hanya dapat menerimanya dengan iman dan pengucapan syukur yang mendalam. Terima kasih Tuhan Yesus! Engkau telah menyelamatkanku. Engkau telah rela mati bagiku. Inilah yang dikatakan oleh Martin Luther: Christ Pro Me. Kristus adalah Allah yang secara penuh memberikan diri-Nya kepadaku. Oh, betapa berharganya hidupku di hadapan Allah!

Karena itu, mari kita mengisi keselamatan yang sangat berharga ini seperti yang Petrus dan Yohanes lakukan, berkata-kata tentang Yesus Penebusku. Bercerita tiada putus tentang kasih-Nya yang mencari manusia berdosa dalam setiap kesempatan yang Tuhan anugerahkan bagi kita. Maukah Anda? Amin.
sumber: www.gkagloria.or.id

13 Jun 2011

Sikap Orang Percaya Terhadap Krisis

Posted by Unknown on 19:29 with No comments
Setiap manusia yang ada di dalam dunia ini tidak bisa lepas dari kesulitan, tantangan, dan penderitaan. Karena hal-hal tersebut di atas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, maka kesulitan, tantangan, dan penderitaan harus disikapi dengan benar, karena kalau tidak, akan berkembang menjadi krisis. Norman Wright, seorang penulis dan psikolog Amerika yang ternama, mengatakan bahwa ke manapun ia pergi, ia selalu bertemu dengan orang-orang yang mengalami stres, depresi, sikap yang panik dan tak berdaya, dan ingin melarikan diri dari masalah-masalah yang ada, sehingga ia cenderung berdoa, “Tuhan, angkatlah segala permasalahanku.” Menurut Norman Wright, semua gejala di atas merupakan ciri-ciri dari orang yang mengalami krisis aktif. Bagaimanakah seharusnya seorang percaya membangun sikap yang benar terhadap krisis, sehingga krisis tidak berkembang menjadi suatu kekuatan negatif yang merusak dirinya? Untuk itu kita akan belajar dari teladan Tuhan Yesus sendiri dalam menghadapi krisis.
Lukas 22:39-46 menceritakan akan masa-masa akhir pelayanan Tuhan Yesus di muka bumi. Di dalam kemahatahuan-Nya, Dia tahu bahwa sebentar lagi Dia akan ditangkap, disiksa dan disalibkan. Walau Kristus mengetahui bahwa dalam menghadapi segala sesuatu Bapa di Sorga selalu menyertai-Nya, tapi ketika waktu-Nya akan tiba, Dia tetap merasa gentar. Dan kegentaran itu mencapai puncaknya pada malam terakhir, sebagaimana yang dicatat oleh Lukas bahwa di tengah-tengah pergumulan-Nya, Dia mencucurkan keringat darah dan tampaklah seorang malaikat memberikan kekuatan kepada-Nya (ay. 43).
Tentang pergumulan Tuhan Yesus yang dahsyat ini, penulis Ibrani juga menulis: “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah” (Ibr. 12:3-4).

Bagaimana sikap Tuhan Yesus dalam menghadapi krisis?
Pertama, Yesus berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku …” (ay. 42). Apakah doa Tuhan Yesus ini menyatakan bahwa Dia ingin menghindarkan diri dari misi-Nya mati di atas kayu salib? Atau apakah doa itu menunjukkan bahwa Dia ragu-ragu untuk melanjutkan pekerjaan-Nya, sehingga ada kesan Dia ingin menyerah di tengah jalan? Sekali-sekali tidak. Tapi justru dengan berkata-kata seperti di atas, kita mendengar suatu doa yang jujur: Apakah kematian di atas kayu salib merupakan satu-satunya cara menyelamatkan manusia berdosa? Doa Tuhan Yesus menjadi contoh dari seorang yang jujur dan terbuka terhadap Allah. William Barclay berkata: “Bukanlah suatu hal yang salah bila kita mengungkapkan perasaan kita yang sesungguhnya terhadap Allah.” (It is never wrong to express our true feelings to God). Hanya mereka yang jujur terhadap Allah, baru dapat jujur terhadap diri sendiri dan sesamanya. Hanya mereka yang terbuka terhadap Allah, baru dapat terbuka terhadap diri sendiri dan sesamanya.
Kedua, Yesus menegaskan kembali akan komitmen-Nya terhadap kehendak Bapa. “… tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (ay. 42). Walau Kristus mempertanyakan adanya alternatif lain dalam menggenapkan misi-Nya untuk menyelamatkan orang yang berdosa, namun pada saat yang sama, Dia menegaskan kembali akan komitmen-Nya terhadap kehendak Bapa di Sorga. Meski jalan salib ini sulit, tapi kalau itu kehendak Bapa, Kristus rela menerimanya. Ini adalah suatu ketaatan yang mutlak. Sikap yang demikian juga pula perlu kita perlihatkan terhadap Allah. James C. Dobson menulis: “Pertumbuhan dalam kehidupan orang Kristen terletak pada ketaatannya dalam masa-masa krisis.” (Growth in the Christian life depends on his obedience in times of crisis).
Ada banyak peristiwa yang menakutkan yang setiap saat bisa menimpa kita, tapi jika itu seizin Tuhan, kita akan belajar menerimanya dengan sukacita. Maka: “Janganlah berdoa untuk kehidupan yang mudah, berdoalah menjadi orang yang lebih kuat. Janganlah berdoa untuk tugas-tugas yang sesuai dengan kekuatan Anda, berdoalah untuk kekuatan yang sesuai dengan tugas-tugas Anda” (Philip Brooks).
Lagipula, dalam mengizinkan berbagai kesulitan dan tantangan dalam kehidupan anak-anak-Nya, Tuhan ingin melatih kita supaya menjadi orang- orang percaya yang kuat. Mensius, salah satu murid Konfusius yang terkemuka, melihat kebenaran ini dan mengungkapkan demikian: “Jikalau langit memberikan tugas yang berat kepada orang tertentu, maka orang itu pasti diberikan kesengsaraan besar, dilatih sampai semua ototnya lelah, dan hatinya penuh kepedihan, barulah dia akan menuaikan tugasnya.”
Bagi orang beriman, kita harus percaya bahwa tidak ada masalah yang lebih besar daripada Allah, dan tidak pernah ada problema manusia yang lebih besar daripada solusi Allah. Kesempitan kita adalah kesempatan bagi Tuhan. Oleh sebab itu, marilah kita belajar mempunyai ketetapan hati dalam dunia yang terus bergolak ini. Ketiga, Yesus diteguhkan kembali. Setelah berdoa, Dia berkata kepada murid-murid-Nya: “Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat” (Mrk. 14:42). Di taman Getsemani kita melihat suatu pemandangan yang kontras: Yesus memasuki taman Getsemani dalam kegelapan; Dia keluar dari sana dalam terang karena Dia telah berbicara dengan Allah.
Yesus memasuki taman Getsemani dengan pergumulan; Dia keluar dari sana dengan damai di dalam jiwa-Nya karena Dia telah berbicara dengan Allah. Maka betapa pentingnya doa bagi orang Kristen. Kebiasaan berbicara dengan Tuhan secara intim perlu kita kembangkan. Cho Yonggi, pendeta sejuta umat di Korea Selatan, berkata: “Bagiku doa sangat penting. Doa akan menjawab semua persoalanku.” Hal yang sama juga diutarakan oleh Martin Luther: “Doa adalah hal yang terpenting dalam hidupku. Apabila aku tidak berdoa, maka aku akan kehilangan api iman.”
Josephus, sejarahwan Yahudi yang amat tersohor, setelah menyaksikan berbagai bentuk penganiayaan sadis yang menimpa orang-orang Kristen di awal kekristenan, menulis demikian: “Saya tidak bisa mengerti, pada waktu singa menerkam orang-orang Kristen, mereka tetap mempunyai wajah-wajah yang tenang, hati yang begitu stabil dan terus memuji Yesus Kristus. Sebelum mati, suara pujian tidak henti-hentinya keluar dari mulut para martir.”
Kita dapat berasumsi bahwa jika orang-orang Kristen itu dapat dengan tabah menghadapi semua siksaan yang ada, ini dikarenakan mereka semua telah terlebih dahulu berbicara dengan Allah, dan seperti yang Tuhan Yesus alami, mereka juga memperoleh ketentraman yang amat besar dalam jiwa mereka dari Allah. Hanya orang Kristen yang mempunyai damai dari Tuhan, baru mampu dengan tenang menghadapi semua tantangan hidup. Karena itu, perlulah kita mengingat nasehat penulis Ibrani yang berkata: “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibr. 4:16).
Berbagai krisis yang sedang menimpa negara Indonesia kelihatannya belum akan segera berlalu. Dan sebagaimana yang telah kita lihat dan alami bersama, krisis-krisis ini telah membawa berbagai dampak negatif dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Walau demikian, kita tidak perlu berkecil hati dan putus asa, karena seperti Bapa menyertai Tuhan Yesus, Dia juga akan menyertai kita. Tuhan Yesus tidak akan membiarkan kita yatim piatu.
Pada saat kita mengalami jalan buntu dan kita tidak tahu bagaimana harus berdoa dan menyelesaikan permasalahan kita, kita perlu mengingat perkataan Paulus dalam Rom. 8:26: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya kita harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan.”
Orang Kristen mungkin menghadapi situasi yang berada di luar kemampuannya, tetapi perlu diingat bahwa ia tak pernah di luar kemampuan Allah. Pada akhirnya, Denis Waitley berkata: “Krisis merupakan suatu kesempatan untuk mengendarai angin yang berbahaya. Pandanglah krisis sebagai suatu kesempatan atau batu loncatan untuk menggapai bintang.” •


sumber: Pdt. Williem Liem

21 Feb 2011

Nilai Seorang Manusia

Posted by Unknown on 20:35 with No comments
Ditengah-tengah mobilitas dan urgenitas aktivitas yang harus kita lakukan sebagai seorang usahawan, pelajar, atau ibu rumah tangga, ada kalanya .... membuat kita merasa, bahwa hidup ini bagai “mesin yang harus diputar” dan “tidak boleh berhenti”. Terlebih, ditambah adanya tuntutan kebutuhan hidup keseharian kita yang melonjak, mendorong kita mengasah pikiran untuk bisa memenuhinya.
Kondisi semacam ini, tanpa kita sadari, lambat laun, menciptakan suatu “budaya” dan “cara pandang” yang rendah tentang hidup yang sedang kita jalani. Karena tuntutan hidup yang sedemikian sulit, maka orang menilai hidupnya tanpa arti dan tujuan yang tepat. Jika materi menjadi focus hidupnya, maka nilai hidupnya sebatas pada seberapa banyak materi yang diperolehnya. Semakin banyak materi yang diperolehnya, semakin bernilai hidupnya. Demikian sebaliknya, semakin sedikit materi yang dimilikinya, semakin kecil pula ia menilai dirinya sendiri. Dampak dari “peradaban” dan “cara pandang” yang demikian hanya akan membawa manusia kepada dua kondisi, yaitu “menyombongkan diri” dan “menghinakan diri (atau orang lain)”.
Penilaian semacam ini jelas tidak sejalan dengan Firman Tuhan. Penulis Kitab Amsal mengatakan bahwa: “Siapa menghina sesamanya sama seperti menghina Penciptanya” (Ams 17:5). Alasan apapun, nilai seorang manusia tidak dapat diukur berdasarkan materi atau ras (warna kulit) yang dimilikinya. Jika Firman Tuhan menjelaskan, bahwa “menghina” atau “merendahkan” sesame sama artinya dengan “menghina Tuhan”, maka kita dapat menarik sebuah logika sederhana, yaitu manusia “disejajarkan” dengan Allah. Tentu “kesejajaran” ini bukan dalam arti kualitas, atau natur manusia sama dengan Allah. Kesejajaran ini dipakai oleh penulis Kitab Amsal, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan (Kej. 1:26). Sebagai penyandang “gambar dan rupa” Tuhan, maka nilai seorang manusia tidak ditentukan dari materi yang Tuhan berikan kepada mereka, tetapi dari tujuan hidup manusia yang menyandang gambar-Nya.
Karena itu saudara, bentuk peradaban atau kemasyarakatan apapun yang menghina sesame telah menghina diri Allah, yang adalah Penciptanya. Terlebih kita, sebagai orang yang telah ditebus-Nya, dilarang menghina dan merendahkan sesamanya manusia, atau menilai diri kita sendiri menjadi berharga hanya karena kita memiliki materi lebih dibandingkan orang lain. Kita berharga karena “kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya”, dan terlebih itu, “kita berharga, karena kita adalah orang-orang yang telah ditebus menjadi anak-anak Allah di dalam Yesus Kristus”. Jadi, janganlah tinggi hati, tetapi juga jangan rendah hati.
Sumber: Perspektif GKA Gloria, Editorial

20 Feb 2011

PINDAH DARI DALAM MAUT KE DALAM HIDUP

Posted by Unknown on 20:39 with 1 comment
“Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Yohanes 5:24. Ketika Allah menciptakan manusia, ia tidak hanya memberi manusia sebuah tubuh, juga di dalam manusia memberi manusia sebuah roh. Tubuh berguna untuk mengontak dunia ini, berhubungan dengan dunia ini, roh berguna untuk mengontak Allah, berhubungan dengan Allah. Karena itu, suasana maut pada diri maqnusia ada dua: satu adalah kematian jasmani, lainnya adalah kematian rohani. Orang yang mati jasmaninya adalah orang mati, orang yang rohnya mati, dalam pandangan Allah, juga adalah orang mati. Tuhan pernah berkata, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Lukas 9:60). Dalam pandangan Tuhan, orang yang dikubur itu adalah orang mati, orang-orang yang menguburkan orang mati itu, karena roh mereka mati, juga adalah orang-orang mati.
Umat manusia yang jatuh, tidak hanya tubuhnya akan mati, sebelumnya, rohnya telah mati lebih dulu. Disayangkan, manusia hanya mengetahui kematian atas tubuh, tidak tahu kematian atas roh. Manusia hanya memikirkan bagaimana merawat dan mengasuh tubuh agar dapat hidup lebih lama beberapa tahun, namun tidak memperhitungkan bagaimana agar rohnya dihidupkan kembali, agar mewarisi hidup yang kekal. Kematian tubuh membuat seseorang terputus hubungan dengan dunia, terputus dalam hubungan ibu bapak, terputus dalam hubungan saudara, terputus dalam hubungan suami istri, terputus dalam hubungan anak-anak, terputus dalam hubungan persahabatan, terputus dalam hubungan antar manusia, juga terputus dalam hubungan antara manusia dengan segala sesuatu.
Tadinya mata bisa melihat pemandangan pegunungan atau hamparan lautan, begitu tubuh mati, tidak dapat melihat lagi. Tadinya telinga bisa mendengar musik-musik merdu, begitu tubuh mati, tidak dapat mendengar lagi. Tadinya lidah bisa mengecap makanan lezat dan sedap, begitu tubuh mati, tidak dapat mengecap lagi. Tadinya tangan ini cekatan bekerja, begitu tubuh mati, tidak dapat bekerja lagi. Demikian pula, kematian roh, menyebabkan manusia putus hubungan dengan Allah, tidak dapat mengontak Allah, tidak dapat menikmati kelimpahan kemanisan diri Tuhan. Kematian tubuh jasmani ini demikian menakutkan, kematian roh lebih-lebih merupakan kehilangan berkat bahagia yang betapa besar. Sungguh rugi!
Tuhan berkata, “Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut kedalam hidup” (Yohanes 5:24). Setiap orang yang menerima Tuhan Yesus, didalam dirinya ia memperoleh Allah, yaitu “pindah dari dalam maut ke dalam hidup”, tidak hanya kelak tubuh memperoleh kebangkitan, “saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya…. Akan keluar” (Yohanes 5:28-29). Bahkan sekarang juga Dia menghidupkan kembali roh manusia dari dalam maut: “Orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup” (Yohanes 5:25). Orang yang tadinya mati terhadap Allah, kini bisa hidup terhadap Allah, bisa mengontak Allah, bersekutu dengan Allah, menikmati suplai limpah lengkap hayat Allah, dengan Allah sebagai sukacita, mewarisi hidup yang kekal. (traktat yayasan perpustakaan injil)