Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.(Matius 11:28)

20 Okt 2013

Pasang surut kehidupan (kesaksian)

Posted by Yonas Wisanto on 14:55 with No comments
Ditulis oleh Liu Wei Lin pada Kam, 11 Okt 2012
Sampai saat ini sudah lima tahun Ibu Hui Li dan suaminya mengurus sebuah salon di Batam, tapi dia memberitahu saya bahwa sesungguhnya baik suaminya maupun dia sendiri tidak mengerti tentang potong rambut. Saya sangat penasaran, jadi bertanya padanya bagaimana mereka bisa memasuki bisnis ini. Ia pun menceritakan pasang surut kehidupannya.
Ibu Hui Li berasal dari Jakarta, dan ia adalah seorang Kristen yang sungguh dan aktif dalam pelayanan Komisi Wanita di sebuah gereja. Waktu itu suaminya menjalankan sebuah bisnis sehingga keadaan ekonomi rumahtangga mereka cukup baik. Kedua anak mereka juga anak-anak yang lincah dan penurut. Satu-satunya hal yang dirasa kurang adalah, karena kesibukan dalam bisnis, sang suami sering harus pergi keluar kota, dan ketika anak-anak sudah kuliah di Perguruan Tinggi, mereka tinggal dekat kampus dan jarang pulang ke rumah. Dengan demikian Ibu Hui Li seringkali harus sendirian di rumah mereka yang besar, sehingga seringkali merasa kesepian. Untuk menghabiskan waktu, ia seringkali jalan-jalan ke Mall, dan pada suatu kesempatan bertemu dengan sekelompok wanita yang senasib. Kalau ada waktu, mereka bersama-sama shopping, minum kopi, makan makanan enak. Tak terasa waktu terus bergulir. Ia semakin terhanyut dalam gaya hidup seperti ini, dan perlahan-lahan mulai meninggalkan gereja.
Tanpa diduga, datanglah badai dalam kehidupan mereka. Karena terkena dampak krisis ekonomi, bisnis suami Ibu Hui Li menurun drastis. Bahkan dalam satu dua tahun kemudian mereka terjerat banyak sekali hutang. Seperti pepatah mengatakan, “Sudah jatuh tertimpa tangga”, karena tekanan ekonomi, Ibu Hui Li dan suami menjadi sering bertengkar. Suami menuding Ibu Hui Li sering menghamburkan uang, dan Ibu Hui Li balik menuding sang suami tidak becus menafkahi istri dan anak. Mereka berdua terus saling menuding, tidak mau saling mengalah. Keluarga yang semula harmonis tersebut menjadi hancur berantakan. Karena marah, Ibu Hui Li memutuskan untuk berangkat sendirian ke Batam, seorang diri memulai bisnis, dan menyerahkan urusan kedua anaknya kepada sang suami.
Begitu tiba di Batam, sendirian tanpa satupun kenalan, Ibu Hui Li tidak tahu ke mana harus berteduh. Setelah beberapa hari tinggal di hotel murah, ia dapati uang yang tersisa sudah tidak banyak, sedangkan belum ada pemikiran pekerjaan apa yang harus ia lakukan. Saat itulah ia mulai merasa menyesal telah mengambil keputusan yang terburu-buru. Tapi ia takut ditertawakan dan ditolak sang suami kalau pulang. Saat itulah ia terkenang akan masa-masa ketika masih rajin ke gereja. Di sana saudara-saudari seiman saling memperhatikan, dan ia memiliki kehidupan yang indah dan penuh sukacita. Ia pun mulai menyalahkan diri yang sudah mencintai keduniawian yang sia-sia, sehingga sampai pada keadaan yang seperti ini. Dirinya diliputi kesedihan dan penyesalan, merasa telah melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya ia lakukan, baik kepada Allah maupun kepada keluarga. Dalam keputusasaan, Ibu Hui Li menghadap Allah yang sudah lama ia tinggalkan. Seperti seorang kanak-kanak yang tak berdaya, dengan bercucuran air mata ia berdoa: “Bapa yang penuh belas kasihan, kiranya Engkau mengampuni putrimu yang pemberontak ini. Aku menyadari telah bersalah. Sekarang aku sebatang kara dan tidak memiliki apa-apa. Kiranya Bapa menunjukkan jalan keluar. Kalau Engkau pun tidak sudi membantuku, aku tidak lagi memiliki harapan untuk hidup. Bapa Sorgawi, kasihanilah anak-Mu ini!” Selesai berdoa, tiba-tiba ia merasakan kedamaian yang pernah begitu akrab dikenalnya memenuhi dirinya. Pikirannya kembali jernih, dan tiba-tiba ia teringat ada salah seorang saudari di gereja Jakarta di mana ia dulu aktif melayani, pernah memberitahu bahwa adik perempuannya membuka usaha di Batam. Mungkin saudari tersebut bisa membantunya! Ia pun segera menelpon saudari di Jakarta tersebut, dan ternyata ia masih mengingat Ibu Hui Li! Mendengar kesulitan yang sedang dihadapi Ibu Hui Li, ia segera memberitahu Ibu Hui Li nama dan nomor telpon adik perempuannya yang di Batam itu. Tak hanya sampai di sini, ia pun bersegera menelpon adik perempuannya untuk berprakarsa mencari dan membantu Ibu Hui Li semaksimal mungkin. Saudari di Batam tersebut kemudian menawarkan kepada Ibu Hui Li untuk membantu mengawasi usaha salon yang dimilikinya. Ibu Hui Li sungguh merasakan penyertaan Tuhan begitu nyata. Ia yakin bahwa Tuhan- lah yang telah menggerakkan para saudari seiman tersebut membantunya.
Tak lama kemudian, Ibu Hui Li mulai mengikuti kebaktian di sebuah gereja di Batam, bahkan terlibat dalam pelayanan penginjilan. Ia menceritakan pengalaman hidupnya kepada banyak orang. Ibu Hui Li juga mengambil prakarsa mengakui kesalahannya kepada suaminya sehingga hubungan mereka berdua menjadi harmonis kembali. Tak lama kemudian, Ibu Hui Li mulai membuka usaha salonnya, dan meminta suami serta kedua anak yang sudah menyelesaikan pendidikan mereka untuk datang ke Batam. Mereka berdua suami istri bersama-sama mengurus usaha salon tersebut. Puji Tuhan, usaha salon mereka berjalan makin lama makin maju, dan keluarga mereka bisa bersatu kembali. Yang terlebih indah adalah bahwa sang suami pun sekarang sudah aktif berbakti di sebuah gereja di Batam. Ibu Hui Li menyatakan, segala sesuatu yang mereka miliki sekarang ini, semua karena anugerah TUHAN!
sumber:hokimtong.org

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan Anda berkomentar dengan sopan