Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.(Matius 11:28)

25 Mei 2012

Berharap dan Percaya (1)

Posted by Yonas Wisanto on 18:54 with No comments
Bacaan hari ini: Roma 4:18-22, Ibrani 11:11-12 “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Roma 4:18) Berharap dan percaya adalah kata yang mudah diucapkan. Tetapi saat harapan tidak kunjung terjadi dan Allahpun seolah-olah diam, masihkah kita dapat tetap berharap dan percaya kepada-Nya? Hal yang sama terjadi dalam kehidupan Abraham dan Sara. Sebelum mereka sampai pada iman yang demikian luar biasa, mereka harus melalui jalan jatuh-bangun yang tidak mudah, yang akhirnya mengantarkan mereka sampai pada titik untuk berharap dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Apa yang dapat kita pelajari dari teladan iman dan juga kegagalan mereka? Kita dapat belajar berharap pada Tuhan, bukan pada hikmat sendiri. Janji Tuhan pada Abraham dan Sara adalah: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat” (Kej. 12:2). Tetapi kemudian dalam Kejadian 16:1 dicatat bahwa Sara tidak beranak. Bahkan, hingga mereka tiba di Kanaan (10 tahun penantian), tidak ada tanda bahwa Tuhan akan menggenapinya. Akhirnya, karena gelisah, Sara berusaha menjalankan rencana Allah, yakni memberikan keturunan kepada Abraham, dengan cara dan pengertiannya sendiri. Ia memberikan seorang budaknya, Hagar, untuk dihampiri oleh Abraham. Mungkin bagi Sara, inilah tindakan pengorbanan yang benar yang ia lakukan, tetapi itu bukan cara Tuhan. Apa yang menurut Sara sebagai jalan terbaik, justru pada akhirnya menimbulkan banyak kesulitan, kepedihan dan kekecewaan. Bukankah sangat sering kita juga melakukan tindakan yang sama? Ketika persoalan tidak kunjung selesai, sementara Allah terlihat seolah-olah diam dan belum bertindak, kita berusaha seolah-olah mau “membantu” Allah menyelesaikan persoalan kita, yang pada akhirnya justru membawa kita kepada kepedihan dan kesulitan berikutnya. Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Jadi, percayalah pada rencana dan waktu Tuhan. sumber: perspektif gkagloria

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan Anda berkomentar dengan sopan